Pentingnya Edukasi Kesehatan Lingkungan Sejak Dini

Menjaga Sanitarian kit / Kesling Kit sudah menjadi kewajiban bagi setiap individu, selain untuk menjaga lingkungan dan alam kita semakin lestari, juga agar Good People dan keluarga terhindar dari penyakit. Lingkungan semakin sehat, tubuh kita juga semakin terjamin kesehatannya karena terhindar dari penyakit, karena seperti yang kita ketahui, kesehatan itu mahal.

Memang tubuh yang sehat bisa didapatkan dari berolahraga secara teratur, menkomsumsi makananan bergizi, dan lingkungan yang sehat dan bersih. Lingkungan yang sehat terkadang diabaikan karena kesibukan dan aktivitas yang padat sehingga lingkungan sekitar tidak dijaga kebersihannya. Lingkungan yang tidak sehat bisa menimbulkan berbagai macam penyakit, salah satu yang mengkhawatirkan adalah deman berdarah (DBD).

Kebersihan lingkungan berarti keadaan bebas dari kotoran, termasuk di dalamnya; debu, sampah, dan bau. Di Indonesia, masalah kebersihan lingkungan selalu menjadi perdebatan dan masalah yang berkembang. Kasus-kasus yang menyangkut masalah kebersihan lingkungan setiap tahunnya terus meningkat. Dan elemen yang bisa membuat lingkungan Good People bersih adalah lingkungan yang menjadi lebih sejuk, bebas dari polusi udara, air menjadi lebih bersih dan aman untuk di minum.

Lingkungan dipengaruhi oleh penghuninya yang bisa menentukan kebersihannya. Perlu kesadaran dan tingkat pengetahuan tentang hal-hal yang terkait dengan lingkungan. Kebersihan lingkungan bukan kewajiban bagi para petugas kebersihan, namun bagi setiap individu. Kesadaran lingkungan bisa dimulai dari individu, di rumah, di tempat kerja hingga di lingkungan masyarakat. Hal yang sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik dengan menggunakan botol tumbler seperti dari Thermos yang hadir untuk mengurangi penggunaan botol plastik.

Menjaga kebersihan lingkungan tidaklah terikat pada tempat dimana kita tinggal, tetapi dimanapun kita berada, maka kewajiban untuk turut menjaga dan merawatnya, secara otomatis juga berada di pribadi Good People. Kemudian bisa melanjutkannya dengan menjaga kebersihan rumah dan halaman. Karena kebersihan rumah dan halaman akan membuat kita menjadi lebih terbiasa untuk membersihkan lingkungan lainnya. Menyapu rumah dan juga halaman yang dijadwalkan rutin, tidak menunggu pada saat kotor saja.

Hal terpenting dalam menjaga kebersihan lingkungan adalah untuk tetap membiasakan hal-hal baik seperti kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Mencoba untuk memilah-milah sampah. Ada yang bisa dijadikan pupuk kompos, ada yang bisa dibakar, bahkan ada yang bisa didaur ulang. Kemudian yang paling penting dalam hal ini juga adalah membiasakan untuk gotong royong membersihkan lingkungan bersama. Selain bisa menjaga lingkungan tetap sehat, juga bisa menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat.

Meskipun Enak, 5 Jenis Makanan Ini Bahaya Bagi Kesehatan Otak!

Jakarta –  Otak adalah bagian terpenting dalam tubuh, karena otaklah yang mengatur semua sistem dalam tubuh berfungsi sebagaimana mestinya. Sehingga, sangat penting untuk menjaga agar otak dapat bekerja maksimal dan menjalankan fungsinya.

  1. Minuman Manis

Soda, minuman bergula, minuman cepat saji, dan minuman berenergi dapat berbahaya bagi kesehatan otak. Minuman manis tidak hanya menambah lingkar pinggang, tetapi juga meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan Alzheimer. Pasalnya, kandungan fruktosa atau gula jagung yang tinggi memiliki efek negatif pada otak, yaitu menurunkan fungsi otak, memori, dan pembentukan neuron otak.

  1. Karbohidrat Olahan

Pizza, pasta, dan burger adalah jenis karbohidrat olahan yang berbahaya bagi kesehatan otak. Pasalnya, karbohidrat olahan mengandung indeks glikemik tinggi yang dapat menimbulkan peradangan pada bagian memori otak. Mereka yang mengonsumsi karbohidrat olahan terlalu sering dapat mengalami penurunan memori. Baca juga: Sanitarian kit / Kesling Kit

  1. Alkohol

Ketika dikonsumsi dalam jumlah yang terbatas, alkohol memang dapat memberikan efek relaksasi. Namun jangan ditanya kalau dikonsumsi dalam jumlah besar, akibatnya bisa berdampak serius pada otak. Penggunaan yang sangat berlebihan bisa mengurangi volume otak, termasuk kehilangan ingatan, gangguan penglihatan, dan ketidakseimbangan kerja tubuh. Tak berhenti disitu, penggunaan alkohol yang sudah melebihi dosis hariannya dapat menyebabkan gangguan emosional.

  1. Ikan yang Mengandung Merkuri

Merkuri adalah logam berat yang dapat tersimpan dalam waktu lama pada jaringan hewan. Beberapa jenis ikan yang rentan terhadap merkuri adalah hiu, makarel, dan tuna. Ada baiknya kamu menghindari konsumsi jenis ikan-ikan tersebut yang selain berbahaya untuk otak juga berbahaya buat organ-organ tubuh lainnya, seperti hati dan ginjal. Baca juga: Sanitarian kit / Kesling Kit

  1. Lemak

Terlalu banyak mengonsumsi lemak dapat menyebabkan kerusakan otak. Pasalnya, lemak bisa mengurangi zat kimia yang melindungi otak dari Alzheimer. Mengonsumsi terlalu banyak lemak juga dapat memperlambat gerak motorik dan membuat badan lemas. Bahaya lain yang mengintai kalau terlalu banyak mengonsumsi lemak adalah sakit jantung koroner, penyempitan pembuluh darah, dan obesitas.

Ketimbang mengonsumsi makanan-makanan tersebut, ada baiknya kamu meningkatkan konsumsi makanan yang dapat memaksimalkan kerja otak seperti salmon, susu, dan sayuran hijau tua seperti bayam dan brokoli yang dapat memaksimalkan sistem kerja saraf pusat sehingga meningkatkan kemampuan memori dan fokus.

Selain dari makanan, cara lain untuk menjaga kesehatan otak adalah dengan sering melatihnya melalui aktivitas seperti mengisi teka-teki silang, bermain catur, ser melakukan olahraga yang dapat merangsang ingatan dan motorik seperti zumba atau pun jenis olahraga dengan penerapan teknik strategi.

Banyak membaca juga bisa menjadi salah satu cara untuk melatih ketajaman otak bekerja dengan meningkatkan daya analisis serta berpikir kritis melalui topik yang dibaca. Terlibat dalam diskusi terbuka serta mengemukakan pendapat secara langsung dan berdiskusi adalah salah satu tips lain memaksimalkan kerja otak.

Kudu Paham Pentingnya Sanitasi Lingkungan

Tim Penggerak Pemberdayaan Ketahanan Keluarga (TP PKK) Kabupaten  Bandung mendorong penerapan kesehatan lingkungan melalui sanitasi. Kepada TP PKK kecamatan, desa dan kelurahan, Imas Sopian Ketua Kelompok Kerja (Pokja) III mengatakan, kader PKK sebagai motivator, perencana dan pelaksana untuk program kesehatan lingkungan, agar cermat dan paham terkait penetapan sanitasi di wilayah kerja masing-masing. ”Kita sebagai Kader PKK, sebagai motivator, perencana program di wilayah juga sebagi pelaksana, harus memastikan tidak ada kesenjangan dalam hal kesehatan lingkungan. Makanya, hari ini (kemarin, Red.) kita berikan pemahaman mengenai sanitasi,” ujar ibu yang akrab disapa Ceu Oyan usai Sosialisasi Sanitasi untuk TP. PKK Kecamatan, Desa dan Kelurahan di Gedung Dewi Sartika Soreang, kemarin (29/8). Dia mengurai, upaya sanitasi akan berhasil jika didukung dengan perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Menurutnya perilaku tersebut bisa ditetapkan melalui program yang difasilitasi pemerintah desa, sebagai bagian terdekat dengan  masyarakat. ”Upaya sanitasi bisa menjadi program kegiatan kader PKK di tingkat desa, contohnya ajukan anggaran minimal Rp 30 juta, untuk kegiatan peningkatan sarana seperti pembangunan MCK/ jamban sehat, septictank dan lainnya,” ungkapnya

Kurangi Dampak Sanitasi Lingkungan, Dinsos Bangun 1000 MCK

Selain penanganan orang terlantar dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), Dinas Sosial (Dinsos) juga memiliki program kepedulian terhadap lingkungan warganya, salah satunya pembuatan MCK. Program ini, dibuat karena sebagian besar warga surabaya masih menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan tinja/kotoran. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Supomo menjelaskan, program pembangunan MCK merupakan bentuk kepedulian dan kerjasama antara Dinsos dan Dinkes terhadap kebersihan sanitasi lingkungan. “Harapannya ke depan supaya mereka tidak lagi buang BAB ke sungai, sehingga tidak membuat cepatnya sedimen (pengendapan) pada sungai,” kata Supomo, Kamis (04/01/17). Saat ini, lanjut Supomo, Pemkot beserta jajaran terus berupaya menggugah kesadaran masyarakat secara berjenjang untuk mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat. Dari hasil survey, kata dia, masih banyak warga surabaya yang belum memiliki tempat pembuangan sendiri. “Nanti di PAK akan ditambahi lagi,” imbuhnya. Kendati demikian, Supomo mengaku bahwa pembangunan MCK dalam waktu dekat sifatnya dibuat situasional. Artinya, apabila setiap rumah tidak bisa dibuatkan septic tank, maka akan dibuatkan komunal (septi tank dengan ukuran yang lebih besar). “Diharapkan dengan adanya perbaikan-perbaikan semacam ini, warga surabaya lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan,” ungkap Kadinsos. Lebih lanjut, Supomo menyampaikan beberapa syarat yang harus di penuhi warga Surabaya apabila ingin mengajukan bantuan pembangunan MCK. “Ajukan dulu ke dinsos, selanjutnya akan kita lakukan verifikasi untuk meihat apakah warga tersebut asli penduduk Surabaya, warga tidak mampu dan terakhir memastikan status kepemilikan rumah miliknya sendiri,” urainya. Adapun data yang dihimpun dari Dinsos di tahun 2017 terdapat sekitar 200 MCK yang sudah dibagun. Sedangkan tahun 2018, Dinsos menargetkan 1000 MCK selesai dengan alokasi dana per tiap unit jamban sebesar Rp 3 juta.

Sanitasi Buruk Picu Kematian di Papua

Di Papua, diare menjadi penyakit yang paling banyak menyumbang angka kematian pada anak. Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Beeri Wopari mengatakan setiap tahunnya, di Papua ada sekitar 30 ribu kasus diare yang menyebabkan kematian. Beeri mengatakan hal ini disebabkan oleh kondisi sanitasi yang masih buruk serta kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS). Belum lagi kondisi air yang kotor dan kurangnya ketersediaan fasilitas kebersihan juga menjadi permasalahan sendiri. Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan menyebutkan sebanyak 66 persen kasus diare lebih tinggi di lingkungan yang mempraktekkan BABS, dibandingkan di daerah perumahan yang memiliki toilet pribadi. Orang yang melakukan BABS biasanya tidak mencuci tangan dengan sabun setelahnya. Hal ini akan memicu banyak kuman dan bakteri yang bersarang di tangan. Tak hanya itu, kotoran yang dibuang di sembarang tempat juga menarik lalat untuk hinggap. Lalat yang hinggap itu bisa saja masuk ke rumah dan hinggap di makanan. Kebiasaan BABS seperti di pinggir sungai tentunya akan mencemari air. Padahal seringkali banyak sawah dan perkebunan yang masih mengandalkan air sungai untuk pengairan. Akibatnya tanaman-tanaman yang merupakan sumber makanan itu ikut tercemar dan berbahaya untuk dikonsumsi. “BABS di pinggiran kali atau kebun. Kalau hujan airnya mengalir ke sungai dan dikonsumsi. Orang yang tinggal di bagian bawah (hilir) tidak tahu kalau dari atas (hulu) airnya sudah tercemar,” kata Beeri. Beberapa masalah tersebut pun akhirnya memicu timbulnya diare. Dia mengatakan, perubahan fisiologis yang begitu cepat saat diare dan penanganan yang terlambat katena dianggap penyakit sepele membuat diare menyebabkan kematian. Beeri bercerita, di Papua, fenomena BABS tersebut masih sering ditemukan. Ada yang BABS di kebun, di sungai, atau bahkan di pinggir pantai. Para pelaku BABS melakukan hal tersebut karena tidak punya fasilitas sanitasi di rumahnya. “Ada data menunjukkan sekitar 60,7 persen pelaku BABS karena alasan sudah biasa. Itu memang terbukti secara stastistik. Dan alasan lainnya, belum mempunyai WC,” ujar Beeri. Masalah Lainnya Akibat BABS Bukan cuma diare yang menyebabkan kematian, BABS juga memicu penyakit lainnya seperti demam berdarah atau malaria. Penyakit malaria yang endemik di Papua, ditakutkan bisa mengancam penduduk yang melakukan BABS, meskipun belum ditemukan kasus serupa. “Kebanyakan masyarakat BABS di kebun, pinggiran kali, yang merupakan daerah perindukan nyamuk. Saat BABS mereka berada di sarang nyamuk dan malaria endemiknya masih tinggi,” kata Beeri. Pada kondisi lain, buruknya sanitasi juga memberikan dampak negatif pada anak. Data dari UNICEF menunjukkan, sebanyak 40 persen anak Indonesia masih kerdil atau stunting. Hal tersebut disebabkan masalah sanitasi yang buruk dan kondisi kekurangan gizi, di luar genetik tentunya “Masalah hambatan pertumbuhan pada anak mempunyai efek jangka panjang yang memengaruhi mereka baik secara fisik, ekonomi dan sosial,” ujar Chief Water, Sanitation and Hygiene (WASH) UNICEF Aidan Cronin. Untuk menghindari kondisi yang semakin memburuk, Kementerian Kesehatan menggandeng berbagai organisasi menggalakkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Papua. Sejak dimulai pertama kali sekitar 2011 lalu di Papua, progam yang digagas Kementerian Kesehatan ini berhasil mengurangi angka buang air besar sembarangan (BABS). Bahkan beberapa daerah sudah dinyatakan bebas dari perilaku BABS. Dalam tiga tahun terakhir saja di Biak Papua, laporan Survei Sosial dan Ekonomi Nasional menyebutkan tahun 2014 sanitasi yang baik sudah mencakup 94,6. Angka tersebut mengantarkan Biak menjadi kota dengan cakupan sanitasi terbaik kedua setelah Jayapura. Tapi, sayangnya, di beberapa daerah belum menunjukkan hasil yang baik. Sebab, berbenturan dengan kebiasaan masyarakat yang sering BABS. Sanitasi Terpadu Berbasis Masyarakat (STBM) di Papua dilakukan langsung oleh masyarakat dengan dibantu oleh beberapa organisasi seperti UNICEF, Simavi, Rumsram, dan Wahana Visi Indonesia, juga Dinas Kesehatan setempat. STBM merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Program ini bertujuan untuk menurunkan angka penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi yang buruk dan perilaku yang tidak bersih.

Generasi muda jadi motor penggerak sanitasi lingkungan

Generasi muda memiliki peran penting sebagai motor penggerak sanitasi yang baik bagi masyarakat, guna kelangsungan hidup di masa depan. “Pemuda memiliki peranan penting dan harus memiliki andil besar dalam membangun sanitasi, sebab sanitasi yang baik merupakan investasi di masa depan, ” ujar salah seorang pemudi penggiat sanitasi, Naili Rahmah di Bandarlampung, Rabu. Menurutnya, melalui penerapan sanitasi yang baik oleh generasi muda akan mendatangkan keuntungan bagi kehidupan di masa mendatang dengan terciptanya sumber daya manusia yang sehat, adanya lingkungan yang nyaman, serta menekan kerugian finansial akibat buruknya sanitasi. “Guna tercapainya percepatan akses sanitasi menuju target sanitasi aman di Provinsi Lampung perlu peran serta dari generasi muda, namun saat ini belum banyak generasi muda ikut berkontribusi langsung menciptakan kondisi ini, ” katanya. Ia mengatakan, perlu dibangun kesadaran bagi generasi muda agar lebih banyak berperan aktif, sebab hal paling penting dari tujuan pembenahan masalah sanitasi ialah menjamin kualitas hidup yang lebih baik bagi generasi di masa depan.  “Permasalahan sanitasi bukan hanya berdampak bagi satu orang melainkan bagi semua orang bahkan dapat memberi efek menahun, sehingga perlu campur tangan generasi muda yang kreatif untuk menyadarkan masyarakat, ” katanya. Hal senada juga dikatakan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Lampung, Taufik Hidayat. “Kolaborasi dan saling bersinergi menjadi kunci pembangunan nasional salah satunya mengenai sanitasi,” katanya. Menurutnya, peran generasi muda sebagai motor penggerak sanitasi sangatlah di perlukan, agar permasalahan sanitasi dapat terselesaikan. “Generasi muda harus mengerti dan memahami masalah sanitasi, agar dapat ikut berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan sanitasi di Lampung, ” katanya. teknologi pemenuhan kebutuhan sanitasi terdapat di https://inaproinstrument.com/

Penuhi Kebutuhan Air Bersih hingga ke Pelosok Desa

Sebagai kepala daerah, Bupati Kutai Timur (Kutim) H Ismunandar terus berupaya meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat. Salah satunya air bersih hingga ke pelosok desa. Komitmen tersebut tidak luntur dan tak pernah kendur sejak menjabat sebagai kepala daerah 2016 lalu hingga kini. Apalagi program dimaksud terus bersinergi dan mendapat dukungan pemerintah pusat. Program pemenuhan dasar bagi masyarakat itupun saat ini mendapat dukungan penuh dari Ketua DPRD Kutim Hj Encek UR Firgasih. Terbukti Encek Firgasih bersama-sama menandatangani komitmen keberlanjutan program pembangunan air bersih keseluruh pedesaan. Penandatanganan disaksikan Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri Muhammad Hudori, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (21/11/2019). “Penandatanganan komitmen eksekutif dan legislative demi keberlanjutannya program pembangunan air bersih keseluruh pedesaan yang disaksikan jajaran Kemendagri ini, menjadi bukti bahwa para pemegang kebijakan memiliki komitmen yang sama untuk menyejahterakan masyarakat. Khususnya dalam pemenuhan kebutuhan air bersih,” jelas Ismu usai prosesi penandatanganan, di Hotel Ibis Trans Studio. Ismu berharap dengan dukungan dan sinergitas antara pemerintah daerah, eksekutif dan legislatif, bersama pemerintah pusat ini, secara bertahap seluruh masyarakat di Kabupaten Kutim dapat menikmati air bersih. Tak hanya dengan sentuhan pelayanan PDAM Tirta Tuah Benua atau Spamdes (sistem penyediaan air minum desa), tetapi juga dijangkau melalui Pamsimas. Ketua DPRD Kutim Hj Encek UR Firgasih juga menegaskan hal yang sama. Keselarasan komitmen yang ditunjukkan oleh legislatif dan eksekutif tentunya menjadi nilai tambah. Khususnya dalam percepatan pembangunan di Kabupaten Kutim secara umum. “Menjadi wujud kolaborasi positif yang dapat mempercepat pembangunan kebutuhan dasar bagi masyarakat, khususnya air bersih hingga ke daerah pedesaan,” sebut Firgasih yang karib disapa Bunda Firga. Sejak 20 sampai 23 November 2019, kedua pasangan pemimpin ini juga dilibatkan dalam workshop “Dukungan Eksekutif dan Legislatif Dalam Rangka Peningkatan Komitmen Daerah Untuk Keberlanjutan Program AMPL (Air Minum dan Penyehatan Lingkungan), Program Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) III Tahun 2019”. Dalam workshop disepakati bahwa pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap akses air minum bersih dan sanitasi merupakan hal mendasar, yang menjadi agenda pokok kebijakan Pembangunan Nasional serta komitmen bersama Internasional dalam Millenium Development Goals (MDGs).  Untuk mencapai Akses Universal Tahun 2019, maka diperlukan harmonisasi kebijakan dan sinergitas dalam berkoordinasi agar efektivitas dalam pelaksanaan program kegiatan. Untuk itu diharapkan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah desa memiliki kesadaran bersama bahwa air minum dan sanitasi adalah masalah kebutuhan dasar masyarakat. Perlu mendapatkan dukungan politik dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan di daerah masing-masing, agar tercapai akses universal. Hal ini, menjadi penting karena ketersediaan air minum dan sanitasi bagi masyarakat menjadi salah satu faktor utama dalam pencegahan dan percepatan penanganan masalah stunting.  Bidang air minum dan sanitasi juga menentukan kinerja daerah dalam pelaksanaan SPM sebagai urusan wajib atas pelayanan dasar. Apalagi ketersediaan air minum dan sanitasi juga menjadi indikator terhadap kesejahteraan masyarakat. Serta indikator atas perkembangan desa menjadi desa berkembang, mandiri dan maju yang tercantum dalam indeks di IPD, IDM maupun Evaluasi Desa. teknologi penguji kualitas air terdapat di https://inaproinstrument.com/h

Monev PMDM Kecamatan Malili – Membenahi Sanitasi Lingkungan

Sebagai ibukota Kabupaten, sudah sewajarnya jika pembangunan pesat terjadi di Kecamatan Malili. Wilayah tersebut merupakan “etalase” bagi mereka yang ingin mendapatkan gambaran tentang Luwu Timur. Namun tidak selamanya Malili memunculkan citra indah. Untuk urusan sanitasi lingkungan saja, Malili masih menyisakan celah yang besar untuk berbenah. Mendengar istilah WC cemplung, kita langsung membayangkan daerah pelosok yang tidak terjangkau akses jalan dan minim infrastruktur dasar. Nyatanya, WC seperti ini masih bisa dijumlai di rumah-rumah warga di Kelurahan Malili. Padahal menurut standar kesehatan, ada tujuh syarat jamban sehat, yaitu tidak mencemari air, tidak mencemari tanah permukaan, bebas dari serangga dan binatang -binatang lain, tidak menimbulkan bau, mudah dibersihkan dan dirawat, nyaman digunakan, dan tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan. Dilihat dari kriteria tersebut, WC cemplung jelas tidak memenuhi standar kesehatan karena umumnya dibuat dengan jarak kurang dari 10 meter dari sumur air bersih, tidak pernah dibersihkan, disedot, maupun dikuras, mudah dijangkau serangga dan binatang lain, masih menimbulkan bau tak sedap, tidak nyaman digunakan, serta tidak enak dipandang. Selama tiga tahun anggaran, Program Mitra Desa Mandiri (PMDM) merealisasikan pembangunan jamban keluarga sehat sebanyak 452 unit di seluruh Kecamatan Malili. Khusus untuk PMDM 2016, sebanyak 121 unit jamban dibangun di Kelurahan Malili (10), Desa Puncak Indah (15), Wewangriu (20), Baruga (9), Balantang (18), Pasi-Pasi (14), Laskap (18), Harapan (7), dan Desa Pongkeru (10). Saat kunjungan ke penerima manfaat di Kelurahan Malili pada Februari 2017, Tim Monev menilai desain jamban yang dikerjakan sendiri oleh penerima manfaat telah baik dan sudah memenuhi kriteria jamban sehat. Penyedia Layanan (PL) menyerahkan bantuan PMDM senilai Rp3,8 juta per unit dalam bentuk material, seperti semen, batako, pasir, batu kali, kloset, dan gorong-gorong. Penerima manfaat membeli sendiri material yang masih dianggap kurang, seperti keramik lantai, cat, serta bahan penutup atap.

Mengubah Pola Pikir

Di Desa Baruga, dana PMDM sektor ekonomi banyak diserap untuk mengembangkan kegiatan UMKM. Konkretnya, untuk pengadaan etalase dan gerobak dorong bagi pedagang kuliner serta penjual barang campuran di pasar dan beberapa lokasi strategis lain di desa tersebut. “Kami, Tim Monev, mendapatkan hal yang menarik ketika mendatangi pedagang-pedagang itu. Ternyata masih ada penerima manfaat yang menyampaikan bahwa mereka sangat membutuhkan uang tunai untuk modal usaha. Rupanya konsep PMDM yang tidak memberikan stimulan berupa uang tunai belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Namun setelah kami jelaskan secara rinci, ternyata mereka bisa menerima dan menganggap bantuan seperti ini lebih tahan lama dan bisa meningkatkan pendapatan untuk jangka panjang,” kata Fasilitator Teknik PMDM Alwi Chaidir. Perubahan pola pikir seperti itulah yang menjadi sasaran PMDM. Selain mulai memikirkan keberlanjutan manfaat kegiatan, masyarakat juga mengubah pola pikir dari kegiatan yang bersifat keinginan dan kepentingan individu atau sekelompok orang, menjadi kegiatan yang mengutamakan kepentingan orang banyak. Seperti pengerjaan talud dan penimbunan jalan di Kelurahan Malili yang telah membuka akses warga menuju jalan raya, sekolah, Posyandu, pasar, kebun, dan rumah ibadah. Kegiatan yang memberikan manfaat besar seperti itu dimasukkan warga ke dalam daftar usulan prioritas melalui musyawarah desa.
TK Al-Mukminun, Desa Pasi-Pasi
Di siklus sebelumnya, TK Al-Mukminun di Desa Pasi-Pasi mendapatkan bantuan PMDM untuk perbaikan fisik bangunan utama, sekaligus melengkapi sarana belajar. Di 2016, PMDM merealisasikan pembangunan RKB tambahan di satu-satunya TK di Desa Pasi-Pasi tersebut. Kegiatan lain yang menarik adalah pembangunan Ruang Kelas Belajar (RKB) TK Al-Mukminun di Desa Pasi-Pasi. Di tahun anggarannya sebelumnya, TK tersebut mendapat bantuan berupa pengecatan dan pengadaan alat permainan luar. Di tahun ketiga, dana PMDM sektor pendidikan sebesar Rp75 juta sepenuhnya dialokasikan untuk membangun tambahan satu RKB di TK Al-Mukminun, mulai dari pekerjaan pondasi hingga pemasangan atap. Namun pekerjaan belum tuntas. Pekerjaan pemasangan pintu dan jendela kaca belum bisa dilakukan karena keterbatan anggaran. Kegiatan akan dilanjutkan di PMDM tahun anggaran berikutnya. Di Desa Baruga, penambahan ruang kelas dilakukan di TK Al-Misfalah. Uniknya, TK Al-Misfalah mengusung konsep RKB terbuka agar siswa tidak jenuh belajar di dalam kelas terus-menerus. Tim Monev di Kecamatan Malili menggarisbawahi bahwa proses kegiatan bisa berjalan dengan baik dan hasilnya memuaskan ketika pelaku PMDM di desa memiliki komitmen yang sama untuk bekerja sesuai aturan. Kegiatan menjadi tidak maksimal, atau bahkan gagal, ketika pelaku hanya mengejar keuntungan materi. Hal itu masih dijumpai di Kecamatan Malili. Untuk fase-fase mendatang, peran masyarakat diperlukan untuk mengevaluasi kinerja pelaku PMDM. Dalam musyawarah pembentukan Komite Desa dan pemilihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), masyarakat hendaknya memilih kandidat yang punya semangat besar untuk mengabdi bagi masyarakat dan punya jiwa pemberdayaan. pakailah jamban sehat yang berkualitas yang terdapat di https://inaproinstrument.com/

Pemkot Terus Dukung Program Sanitasi Lingkungan

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan senantiasa mendorong program sanitasi lingkungan. Hal ini tidak lain karena selaras dengan langkah-langkah yang diprogramkan Pemerintah Kota Bogor dalam memenuhi misi yang telah ditetapkan. Paling tidak adalah untuk misi yang kedua dan keempat, yaitu mewujudkan Kota Bogor menjadi kota yang sehat dan makmur serta pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Hal itu disampaikan Wakil Wali Kota Bogor, Usmar Hariman saat meresmikan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bantar Kemang Sehat, Sanitasi Reguler 2016 di RW 7, Kelurahan Baranangsiang, Bogor Timur, Sabtu (18/2/2017). “Itulah mengapa program ini kita dorong dengan berbagai sumber pembiayaan. Baik itu yang berasal dari pemerintah pusat, provinsi, APBD Kota Bogor maupun dari lembaga-lembaga dunia. Oleh karena itu, baik secara pribadi maupun sebagai wakil wali kota terus mendorong, menggiatkan, dan memperbesar anggaran-anggaran untuk program sanitasi lingkungan,” paparnya. Program sanitasi lingkungan ini juga, lanjut Usmar, tidak lepas dari peran Forum Kota Sehat. Bahkan menurutnya Pemerintah Kota Bogor sudah sangat pantas memberikan penghargaan kepada Ketua Forum Kota Sehat, Kota Bogor Abdul Karim. Hanya saja bentuk penghargaan yang tepat untuknya masih harus dipikirkan, dan akan dirumuskan untuk kemudian diusulkan kepada Wali Kota Bogor Bima Arya. “Setelah bertahun-tahun sejak saya di dewan (legislatif) dan sampai saya di eksekutif, saya terus mendukung usaha Forum Kota Sehat. Karena dengan persaingan antar kota yang ada di Jawa Barat, ternyata Kota Bogor mendapatkan prioritas. Kenapa, karena salah satunya ada figur seperti Pak Karim,” ungkap Usmar. Berdasarkan keterangan Usmar, dari 34 titik lokasi yang dialokasikan pemerintah pusat untuk Provinsi Jawa Barat, 20 lokasi diantaranya berada di Kota Bogor. (Humas/Donni/Foto:Indra)

Perilaku Masyarakat dalam Pengelolaan Sanitasi Lingkungan Pemukiman di Perkebunan Kopi Kabupaten Jember

Pemerintah Kabupaten Jember telah melakukan beberapa program untuk meningkatkan pelayanan sanitasi lingkungan di wilayahnya. Salah satunya di Kecamatan Silo yang merupakan wilayah perkebunan kopi yang cukup luas. Salah satu akses sanitasi masyarakat Silo terutama jamban sehat masih sangat rendah (45,3%). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan pendekatan metode Participatory Rural Appraisal (PRA). Data dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi, dan Focus Group Discussion (FGD). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi peran dan potensi masyarakat dalam pengelolaan sanitasi lingkungan pemukiman di perkebunan kopi Desa Sidomulyo Kecamatan Silo Kabupaten Jember. Hasil: Pengetahuan responden tentang sanitasi 36% buruk dan 46% sedang, sikap responden 14% buruk dan 72% sedang, perilaku 55% sedang dan 31% buruk, sebagian besar responden menggunakan mata air sebagai sumber MCK sebanyak 79% serta penyediaan air minum sebanyak 58%. Kepemilikan sumur sebagian besar responden (85%) tidak memiliki sumur, 67% tidak memiliki jamban serta 60% tidak memiliki kamar mandi, 50% dari yang tidak memiliki jamban buang air besar di sungai dan di kebun, serta 62% kondisi rumahnya tidak sehat. Dari hasil FGD diperoleh informasi bahwa masyarakat memiliki motivasi dalam meningkatkan pengelolaan sanitasi lingkungan serta terdapat kelompok masyarakat melalui kegiatan arisan, karang taruna dan pengajian para bapak yang dapat dijadikan sebagai media dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sanitasi lingkungan di pemukiman perkebunan kopi. Kesimpulan: Sebagian besar responden memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku tentang sanitasi yang sedang. Masih terdapat responden yang memiliki perilaku yang buruk tentang sanitasi lingkungan. Hal ini ditunjukkan dengan sebagian besar responden tidak memiliki sumur, tidak memiliki jamban serta kamar mandi di rumah. Separuh dari yang tidak memiliki jamban, BAB di sungai dan di kebun. Saran: Pemanfaatan lembaga sosial dalam meningkatkan perilaku sanitasi lingkungan masyarakat setempat.

GEBRAKAN GOTONG ROYONG SANITASI LINGKUNGAN

Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional yang ke 108 tahun 2016, di Desa Suroyudan ,Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo dilaksanakan gerakan Gebrak Gotong Royong, Jum’at ( 20/5 ). Hadir dalam acara tersebut Muspida, Muspika Kecamatan Sukoharjo, dan perwakilan masing-masing Kecamatan se Kabupaten Wonosobo, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonosobo. Gotong Royong berupakan budaya luhur bangsa kita yang turun temurun di Negara kita, sudah mulai memudar tidak segayeng dahulu. Melihat guyub rukunnya masyarakat Desa Suroyudan dalam kegiatan kali ini, rupanya lunturnya budaya gotong royong tidak nampak disini. Pemerintah Daerah Wonosobo memberikan Apresiasi kepada seluruh masyarakat Desa Suroyudan yang dipimpin Ahmad Suratno sang Kades. Masyarakat beserta perangkat desa dengan jerih payah dan kerja kerasnya, bisa menepis anggapan bahwa budaya gotong royong telah luntur tergerus jaman. Terbukti perangkat desa dan masyarakat bahu membahu memperbaiki sanitasi lingkungan yang ada didesa tersebut. Bupati Wonosobo Eko Purnomo S.E, M.M mengajak semua pihak di bulan Mei ini supaya melakukan introspeksi dan evaluasi budaya luhur gotong royong. Jajaran FORKOMPINDA beserta istri menempelkan stiker rumah berjamban dan bebas jentik. Eko Purnomo berpesan kepada instansi terkait bersama Tim Penggerak PKK,  secara terus menerus memberikan arahan kepada masyarakat dalam berperilaku hidup bersih dan sehat. Pembuatan jamban berseptic tank dan pemberantasan sarang nyamuk, sangat penting, karena Demam Berdarah Dengue(DBD) telah merebak diberbagai wilayah. Daerah Endemis penyebaran DBD seperti pulau Jawa ,DIY,DKI Jakarta, yang sangat berpengaruh terhadap tertularnya virus DBD menjadi sangat tinggi. Secara geografis Wonosobo bukan merupakan endemis DBD, dengan perubahan iklim yang relatif hangat, cenderung umur nyamuk Aedes Aegypy dan Aedes Albopictussebagai vektor penular akan bertambah panjang. Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonosobo bersama Dinas Kesehatan, dan seluruh elemen masyarakat melakukan gerakan komperehensif mencegah meluasnya penularan DBD. Dengan secara serentak membersihkan parit dan genangan air, supaya nyamuk tidak sempat berpindah tempat. Pembuatan jamban ber septic tank juga menghilangkan budaya masyarakat yang buang air besar dan air kecil sembarangan, serta aktif pelihara kebersihan diri dan lingkungan. Dengan tindakan diatas dapat mewujudkan kondisi sanitasi yang baik dan ideal di Kabupaten Wonosobo. Pembuatan Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU) sangat dibutuhkan masyarakat. Kesehatan sangat mahal harganya, diharapkan masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Sehingga bayi, balita hingga lansia selalu dalam kondisi yang sehat. Desa Suroyudan termasuk desa yang mempunyai potensi besar dalam pertanian dan peternakan, terbukti di stan tersebut dipamerkan hasil jerih payah mereka. Potensi ini harus terus dikembangkan dengan derasnya arus modernisasi, tidak melunturkan semangat gotong royong, demi terwujudnya masyarakat yang maju, mandiri dan sejahtera.

Sanitasi Permukiman

Pembangunan sanitasi permukiman di Indonesia bertujuan meningkatkan kondisi dan kualitas pelayanan air limbah, pengelolaan persampahan, drainase, dan kesehatan. Targetnya adalah pada tahun 2014: Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan), pengurangan timbulan sampah dari sumbernya dan penanganan sampah yang berwawasan lingkungan, serta pengurangan genangan di sejumlah kota.

Permasalahan Sanitasi Permukiman

Permasalahan sanitasi permukiman di Indonesia umumnya dapat terlihat dari masih rendahnya kualitas dan tingkat pelayanan sanitasi – baik di perkotaan maupun di perdesaan. Beberapa faktor yang menjadi penyebabnya antara lain adalah:
  • Masih rendahnya kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sanitasi, utamanya pada tahap pemanfaatan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sanitasi di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Hal ini belum termasuk pada keterlibatan dalam perencanaan, pelaksanaan pembangunan, kontribusi pendanaan atau pun lahan, dll.
  • Masih kurangnya koordinasi antar pihak-pihak yang berkepentingan – baik di tingkat pusat maupun daerah. Selain itu kurang padu dan komprehensifnya perencanaan dan program pembangunan juga merupakan permasalahan yang menyebabkan kurang efisien dan efektifnya pembangunan sanitasi permukiman.
  • Masih kurangnya minat dunia usaha untuk berinvestasi di sektor sanitasi. Alasan yang umum dikemukakan adalah pertimbangan ekonomis dan keuangan, peraturan dan perundangan yang belum mendukung, dll.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu terobosan di sektor sanitasi. Terobosan tersebut adalah melalui suatu strategi dan program pembangunan yang komprehensif, terintegrasi, jangka panjang, dan melibatkan berbagai pihak. Strategi ini juga harus diikuti oleh komitmen dan kerja keras semua pihak, baik di bidang pendanaan, penguatan kelembagaan & SDM, penegakan peraturan, pemilihan opsi teknologi sanitasi yang tepat, dan peningkatan partisipasi dunia usaha dan masyarakat.