Pentingnya Edukasi Kesehatan Lingkungan Sejak Dini

Menjaga Sanitarian kit / Kesling Kit sudah menjadi kewajiban bagi setiap individu, selain untuk menjaga lingkungan dan alam kita semakin lestari, juga agar Good People dan keluarga terhindar dari penyakit. Lingkungan semakin sehat, tubuh kita juga semakin terjamin kesehatannya karena terhindar dari penyakit, karena seperti yang kita ketahui, kesehatan itu mahal.

Memang tubuh yang sehat bisa didapatkan dari berolahraga secara teratur, menkomsumsi makananan bergizi, dan lingkungan yang sehat dan bersih. Lingkungan yang sehat terkadang diabaikan karena kesibukan dan aktivitas yang padat sehingga lingkungan sekitar tidak dijaga kebersihannya. Lingkungan yang tidak sehat bisa menimbulkan berbagai macam penyakit, salah satu yang mengkhawatirkan adalah deman berdarah (DBD).

Kebersihan lingkungan berarti keadaan bebas dari kotoran, termasuk di dalamnya; debu, sampah, dan bau. Di Indonesia, masalah kebersihan lingkungan selalu menjadi perdebatan dan masalah yang berkembang. Kasus-kasus yang menyangkut masalah kebersihan lingkungan setiap tahunnya terus meningkat. Dan elemen yang bisa membuat lingkungan Good People bersih adalah lingkungan yang menjadi lebih sejuk, bebas dari polusi udara, air menjadi lebih bersih dan aman untuk di minum.

Lingkungan dipengaruhi oleh penghuninya yang bisa menentukan kebersihannya. Perlu kesadaran dan tingkat pengetahuan tentang hal-hal yang terkait dengan lingkungan. Kebersihan lingkungan bukan kewajiban bagi para petugas kebersihan, namun bagi setiap individu. Kesadaran lingkungan bisa dimulai dari individu, di rumah, di tempat kerja hingga di lingkungan masyarakat. Hal yang sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik dengan menggunakan botol tumbler seperti dari Thermos yang hadir untuk mengurangi penggunaan botol plastik.

Menjaga kebersihan lingkungan tidaklah terikat pada tempat dimana kita tinggal, tetapi dimanapun kita berada, maka kewajiban untuk turut menjaga dan merawatnya, secara otomatis juga berada di pribadi Good People. Kemudian bisa melanjutkannya dengan menjaga kebersihan rumah dan halaman. Karena kebersihan rumah dan halaman akan membuat kita menjadi lebih terbiasa untuk membersihkan lingkungan lainnya. Menyapu rumah dan juga halaman yang dijadwalkan rutin, tidak menunggu pada saat kotor saja.

Hal terpenting dalam menjaga kebersihan lingkungan adalah untuk tetap membiasakan hal-hal baik seperti kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Mencoba untuk memilah-milah sampah. Ada yang bisa dijadikan pupuk kompos, ada yang bisa dibakar, bahkan ada yang bisa didaur ulang. Kemudian yang paling penting dalam hal ini juga adalah membiasakan untuk gotong royong membersihkan lingkungan bersama. Selain bisa menjaga lingkungan tetap sehat, juga bisa menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat.

Meskipun Enak, 5 Jenis Makanan Ini Bahaya Bagi Kesehatan Otak!

Jakarta –  Otak adalah bagian terpenting dalam tubuh, karena otaklah yang mengatur semua sistem dalam tubuh berfungsi sebagaimana mestinya. Sehingga, sangat penting untuk menjaga agar otak dapat bekerja maksimal dan menjalankan fungsinya.

  1. Minuman Manis

Soda, minuman bergula, minuman cepat saji, dan minuman berenergi dapat berbahaya bagi kesehatan otak. Minuman manis tidak hanya menambah lingkar pinggang, tetapi juga meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan Alzheimer. Pasalnya, kandungan fruktosa atau gula jagung yang tinggi memiliki efek negatif pada otak, yaitu menurunkan fungsi otak, memori, dan pembentukan neuron otak.

  1. Karbohidrat Olahan

Pizza, pasta, dan burger adalah jenis karbohidrat olahan yang berbahaya bagi kesehatan otak. Pasalnya, karbohidrat olahan mengandung indeks glikemik tinggi yang dapat menimbulkan peradangan pada bagian memori otak. Mereka yang mengonsumsi karbohidrat olahan terlalu sering dapat mengalami penurunan memori. Baca juga: Sanitarian kit / Kesling Kit

  1. Alkohol

Ketika dikonsumsi dalam jumlah yang terbatas, alkohol memang dapat memberikan efek relaksasi. Namun jangan ditanya kalau dikonsumsi dalam jumlah besar, akibatnya bisa berdampak serius pada otak. Penggunaan yang sangat berlebihan bisa mengurangi volume otak, termasuk kehilangan ingatan, gangguan penglihatan, dan ketidakseimbangan kerja tubuh. Tak berhenti disitu, penggunaan alkohol yang sudah melebihi dosis hariannya dapat menyebabkan gangguan emosional.

  1. Ikan yang Mengandung Merkuri

Merkuri adalah logam berat yang dapat tersimpan dalam waktu lama pada jaringan hewan. Beberapa jenis ikan yang rentan terhadap merkuri adalah hiu, makarel, dan tuna. Ada baiknya kamu menghindari konsumsi jenis ikan-ikan tersebut yang selain berbahaya untuk otak juga berbahaya buat organ-organ tubuh lainnya, seperti hati dan ginjal. Baca juga: Sanitarian kit / Kesling Kit

  1. Lemak

Terlalu banyak mengonsumsi lemak dapat menyebabkan kerusakan otak. Pasalnya, lemak bisa mengurangi zat kimia yang melindungi otak dari Alzheimer. Mengonsumsi terlalu banyak lemak juga dapat memperlambat gerak motorik dan membuat badan lemas. Bahaya lain yang mengintai kalau terlalu banyak mengonsumsi lemak adalah sakit jantung koroner, penyempitan pembuluh darah, dan obesitas.

Ketimbang mengonsumsi makanan-makanan tersebut, ada baiknya kamu meningkatkan konsumsi makanan yang dapat memaksimalkan kerja otak seperti salmon, susu, dan sayuran hijau tua seperti bayam dan brokoli yang dapat memaksimalkan sistem kerja saraf pusat sehingga meningkatkan kemampuan memori dan fokus.

Selain dari makanan, cara lain untuk menjaga kesehatan otak adalah dengan sering melatihnya melalui aktivitas seperti mengisi teka-teki silang, bermain catur, ser melakukan olahraga yang dapat merangsang ingatan dan motorik seperti zumba atau pun jenis olahraga dengan penerapan teknik strategi.

Banyak membaca juga bisa menjadi salah satu cara untuk melatih ketajaman otak bekerja dengan meningkatkan daya analisis serta berpikir kritis melalui topik yang dibaca. Terlibat dalam diskusi terbuka serta mengemukakan pendapat secara langsung dan berdiskusi adalah salah satu tips lain memaksimalkan kerja otak.

Kudu Paham Pentingnya Sanitasi Lingkungan

Mengajak dan membiasakan masyarakat berperilaku hidup bersih-sehat, tentu bukan perkara mudah. Namun ini perlu terus dilakukan secara periodik, mengingat pencemaran air dan penanganan Sanitarian kit / Kesling Kit yang kurang baik dapat mengancam kelangsungan hidup masyarakat itu sendiri. Mungkin beberapa solusi dibawah ini perlu dilakukan demi menjadikan kualitas sanitasi di masyarakat bisa menjadi lebih baik. Diantaranya:

 1.     Merubah perilaku publik agar peduli dan memahami pentingnya kualitas sanitasi

2.     Membangun kembali kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebagai kewajiban sehari-hari

3.     Menghimbau untuk menjalankan lagi kebiasaan buang sampah pada tempat sampah

4.     Menstimulan tiada henti agar tumbuh niat membiasakan BAB di jamban/WC yang septic

 Kegiatan tersebut, sekilas bisa jadi hanyalah sebuah pilihan. Namun demi menjadikan derajat kesehatan publik agar lebih baik dan bisa menikmati lingkungan berkualitas, maka diperlukan gerakan dari diri setiap individu  untuk memulai dengan melakukan hal-hal yang sederhana; ikhlas tanpa pamrih dan menjadikan semua aktivitas itu sebagai ibadah. Tujuannya terciptanya perilaku hidup bersih dan sehat.

Perilaku hidup-sehat, sekali lagi tidak bisa dilepaskan dari peran setiap individu sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Mereka memiliki tanggungjawab besar untuk menciptakan dan menjaga kualitas lingkungan di sekitarnya; termasuk sanitasi agar tetap berfungsi dengan baik. Semua itu akan semakin berkembang dan merakyat, jika bila setiap indivu orang memiliki kepedulian memperkuat jaringan bagi berkembangnya kegiatan pemberdayaan masyarakat dan terbentuknya komitmen mau merubah perilaku, BAB di  Jamban Sehat. Apalagi saat ini telah bergulir program jamban sehat yang disinegerikan dengan kegiatan swadaya masyarakat atau bergotong royong membangun jamban sehat.

Kurangi Dampak Sanitasi Lingkungan, Dinsos Bangun 1000 MCK

Selain penanganan orang terlantar dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), Dinas Sosial (Dinsos) juga memiliki program kepedulian terhadap lingkungan warganya, salah satunya pembuatan MCK. Program ini, dibuat karena sebagian besar warga surabaya masih menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan tinja/kotoran.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Supomo menjelaskan, program pembangunan MCK merupakan bentuk kepedulian dan kerjasama antara Dinsos dan Dinkes terhadap kebersihan .Sanitarian kit / Kesling Kit “Harapannya ke depan supaya mereka tidak lagi buang BAB ke sungai, sehingga tidak membuat cepatnya sedimen (pengendapan) pada sungai,” kata Supomo, Kamis (04/01/17).

Saat ini, lanjut Supomo, Pemkot beserta jajaran terus berupaya menggugah kesadaran masyarakat secara berjenjang untuk mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat. Dari hasil survey, kata dia, masih banyak warga surabaya yang belum memiliki tempat pembuangan sendiri. “Nanti di PAK akan ditambahi lagi,” imbuhnya.

Kendati demikian, Supomo mengaku bahwa pembangunan MCK dalam waktu dekat sifatnya dibuat situasional. Artinya, apabila setiap rumah tidak bisa dibuatkan septic tank, maka akan dibuatkan komunal (septi tank dengan ukuran yang lebih besar). “Diharapkan dengan adanya perbaikan-perbaikan semacam ini, warga surabaya lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan ungkap Kadinsos.

Lebih lanjut, Supomo menyampaikan beberapa syarat yang harus di penuhi warga Surabaya apabila ingin mengajukan bantuan pembangunan MCK. “Ajukan dulu ke dinsos, selanjutnya akan kita lakukan verifikasi untuk meihat apakah warga tersebut asli penduduk Surabaya, warga tidak mampu dan terakhir memastikan status kepemilikan rumah miliknya sendiri,” urainya.

Adapun data yang dihimpun dari Dinsos di tahun 2017 terdapat sekitar 200 MCK yang sudah dibagun. Sedangkan tahun 2018, Dinsos menargetkan 1000 MCK selesai dengan alokasi dana per tiap unit jamban sebesar Rp 3 juta.

Sanitasi Buruk Picu Kematian di Papua

Salah satu penyakit menular yang rentan menyerang anak-anak karena kesulitan air bersih adalah diare. Apalagi kondisi ini paling banyak terjadi di wilayah pedesaan dan Indonesia Timur. Kurangnya air bersih menyebabkan masalah Sanitarian kit / Kesling Kit yang buruk.

Pedesaan merupakan wilayah yang banyak mengalami kesulitan akses air bersih. Ketersediaan dana juga menjadi tantangan dalam mewujudkan 100 persen air bersih ini. Salah satu upaya efektif mengatasi persoalan itu adalah mengoptimalkan potensi perusahaan air baik di pedesaan maupun perkotaan.

Organisasi berbasis komunitas untuk menyediakan layanan air dan sanitasi bagi masyarakat terutama bagi kesehatan digagas dalam program Water Credit oleh Water.org.

“Memang masalah krisis air bersih tak lepas dari diare dan stunting. Tentu yang harus dilakukan adalah peningkatan kualitas air. Ketika sistem itu terbangun, kami uji kualitas lab bahwa itu memang layak,” kata Country Manager Water.org Rachmad Hidayat dalam konferensi pers, Jumat (23/11).

Generasi muda jadi motor penggerak sanitasi lingkungan

Limbah sampah plastik setiap hari semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah produk dan pola konsumsi generasi milenial. Hal yang harus dilakukan untuk mengatasi peningkatan volume sampah plastik tersebut adalah dengan cara mengurangi volume sampah plastik dari sumbernya melalui pemberdayaan generasi milenial.

Permasalahan mengenai pengelolaan sampah plastik adalah apa saja
bentuk regulasi yang terkait dengan pengelolaan sampah plastik di Desa Penatih Dangin Puri, Kelurahan Penatih, Kota Denpasar bagaimana bentuk peran serta generasi milenial dalam pengelolaan sampah plastik dan tingkat peran generasi milenial di Desa Penatih Dangin Puri, tujuan untuk:

(1)mendeskripsikan bentuk peran generasi milenial di Desa Penatih Dangin Puri. (2) mendeskripsikan tingkat peran generasi milenial di Desa Penatih Dangin Puri data meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif.

Berdasarkan hasil penelitian, salah satu bentuk peran serta generasi milenial dalam upaya perbaikan Sanitarian Kit/Kesling Kit yaitu dengan memberikan sumbangan tenaga berupa kerja bakti dan ikut serta dalam pengelolaan sampah plastik. Selain itu, mereka juga memiliki cara-cara sederhana untuk mengurangi sampah di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.

mereka juga mengadakan pertemuan dengan masyarakat desa yang dilakukan satu kali dalam sebulan, yang dihadiri oleh pemerintah desa setempat, pemuda-pemudi yang tergabung dalam organisasi karang taruna Desa Penatih Dangin Puri yang terdiri dari 13 banjar dan 7 dusun.

Generasi milenial melakukan kegiatan tersebut tanpa merasa terpaksa sama sekali,Tingkat peran serta generasi milenial yang terjadi di Desa Penatih Dangin Puri menurut kategori sedang, generasi milenial ikut berperan dalam pengelolaan sampah plastik akan tetapi pelaksanaanya masih belum maksimal.

Penuhi Kebutuhan Air Bersih hingga ke Pelosok Desa

Banjarbaru (ANTARA) – Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor meminta seluruh jajarannya berjuang memenuhi kebutuhan air bersih bagi rakyat hingga pelosok terpenuhi secara berkelanjutan, seperti melalui SPAM Banjarbakula.

Menurut Gubernur di Banjarmasin Kamis, salah satu upaya memenuhi kebutuhan tersebut adalah dengan merealisasikan pembangunan SPAM Banjarbakula tahap dua.

Hal tersebut disampaikan Paman Birin sapaan akrab Gubernur Kalsel, pada Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pengalihan/Konversi Aset Penyertaan Modal Pemprov Kalsel pada PDAM Intan Banjar untuk Berkelanjutan Pembangunan SPAM Regional Banjarbakula
.
Dipaparkan Gubernur, berdasarkan data BPS 2018 rata-rata nasional akses air terhadap air minum layak tercatat untuk wilayah perkotaan sebesar 81,55 persen dan wilayah pedesaan baru dan berkelanjutan secara nasional 65,28 persen.

Namun, sambung Paman Birin, Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi yang masih berada di bawah rata-rata nasional yaitu baru 50,46 persen untuk rumah tangga yang memiliki akses air minum yang layak di tahun 2018.

“Untuk sekaligus mengurangi ketimpangan antarwilayah, salah satunya dengan cara mengembangkan sistem Sanitarian Kit/Kesling Kit air minum regional Banjarbakula,” katanya.

Sehingga, kebutuhan air untuk keperluan domestik berbanding lurus dengan peningkatan jumlah penduduk di daerah.

Berdasarkan hal tersebut, tambah dia, kebijakan pemenuhan kebutuhan air minum sebagai bagian dari hal yang penting dalam pembangunan di daerah dan untuk menuju Kalimantan Selatan sejahtera berkeadilan mandiri dan berdaya saing.

“Melalui mekanisme penyerataan modal, diharapkan dapat memacu kinerja PDAM Intan Banjar untuk meningkatkan akses dan pelayanan air minum bagi warga, saya kira inilah tujuan utama dilaksanakannya kesepakatan bersama ini,” jelasnya.

Pada acara tersebut, Pemprov Kalsel mengalokasikan anggaran puluhan miliar rupiah untuk kelanjutan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Banjarbakula tahap dua, dengan rencana alokasi anggaran pada 2020.

“Dana yang dianggarkan pada 2020, sebesar Rp80 miliar dan sisanya akan diselesaikan di 2021 dengan mekanisme dan lokasi kegiatan Pengembangan SPAM Regional di Hutan Pinus Banjarbaru,” terang Kadis PUPR Provinsi Kalsel, Roy Rizali Anwar.

Agar hal itu terealisasi, menurut Roy diperlukan lahan yang harus dimiliki oleh pemerintah provinsi sebagai pengelola.

Sehingga lahan semula yang berstatus milik pemerintah Kabupaten Banjar harus diambil alih melalui konvensi dengan penyertaan modal provinsi.

“Sejalan dengan hal tersebut Pemerintah Kabupaten Banjar tersedia mengalihkan status tanah menjadi kepemilikan provinsi melalui kesepakatan bersama tentang pengalihan konversi aset penyertaan modal Pemprov Kalsel,” jelasnya.

Pada kesempatan itu dilaksanakan penandatangan kerjasama tentang pengalihan atau konversi pernyataan modal Pemprov Kalsel pada PT Intan Banjar untuk keberlanjutan pembangunan spam regional Banjarbakula tahap dua.

Kegiatan ini dihadiri pula oleh Walikota Banjarbaru, Bupati Kabupaten Banjar, Kepala PDAM Intan Banjar serta seluruh SKPD terkait.


Monev PMDM Kecamatan Malili – Membenahi Sanitasi Lingkungan

Sebagai ibukota Kabupaten, sudah sewajarnya jika pembangunan pesat terjadi di Kecamatan Malili. Wilayah tersebut merupakan “etalase” bagi mereka yang ingin mendapatkan gambaran tentang Luwu Timur.

Namun tidak selamanya Malili memunculkan citra indah. Untuk urusan Sanitarian kit / Kesling Kit saja, Malili masih menyisakan celah yang besar untuk berbenah. Mendengar istilah WC cemplung, kita langsung membayangkan daerah pelosok yang tidak terjangkau akses jalan dan minim infrastruktur dasar. Nyatanya, WC seperti ini masih bisa dijumlai di rumah-rumah warga di Kelurahan Malili.

Padahal menurut standar kesehatan, ada tujuh syarat jamban sehat yaitu tidak mencemari air, tidak mencemari tanah permukaan, bebas dari serangga dan binatang -binatang lain, tidak menimbulkan bau, mudah dibersihkan dan dirawat, nyaman digunakan, dan tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan. Dilihat dari kriteria tersebut, WC cemplung jelas tidak memenuhi standar kesehatan karena umumnya dibuat dengan jarak kurang dari 10 meter dari sumur air bersih, tidak pernah dibersihkan, disedot, maupun dikuras, mudah dijangkau serangga dan binatang lain, masih menimbulkan bau tak sedap, tidak nyaman digunakan, serta tidak enak dipandang.

Selama tiga tahun anggaran, Program Mitra Desa Mandiri (PMDM) merealisasikan pembangunan jamban keluarga sehat sebanyak 452 unit di seluruh Kecamatan Malili. Khusus untuk PMDM 2016, sebanyak 121 unit jamban dibangun di Kelurahan Malili (10), Desa Puncak Indah (15), Wewangriu (20), Baruga (9), Balantang (18), Pasi-Pasi (14), Laskap (18), Harapan (7), dan Desa Pongkeru (10).

Saat kunjungan ke penerima manfaat di Kelurahan Malili pada Februari 2017, Tim Monev menilai desain jamban yang dikerjakan sendiri oleh penerima manfaat telah baik dan sudah memenuhi kriteria jamban sehat.

Penyedia Layanan (PL) menyerahkan bantuan PMDM senilai Rp3,8 juta per unit dalam bentuk material, seperti semen, batako, pasir, batu kali, kloset, dan gorong-gorong. Penerima manfaat membeli sendiri material yang masih dianggap kurang, seperti keramik lantai, cat, serta bahan penutup atap.

Mengubah Pola Pikir

Di Desa Baruga, dana PMDM sektor ekonomi banyak diserap untuk mengembangkan kegiatan UMKM. Konkretnya, untuk pengadaan etalase dan gerobak dorong bagi pedagang kuliner serta penjual barang campuran di pasar dan beberapa lokasi strategis lain di desa tersebut. “Kami, Tim Monev, mendapatkan hal yang menarik ketika mendatangi pedagang-pedagang itu.

Ternyata masih ada penerima manfaat yang menyampaikan bahwa mereka sangat membutuhkan uang tunai untuk modal usaha. Rupanya konsep PMDM yang tidak memberikan stimulan berupa uang tunai belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Namun setelah kami jelaskan secara rinci, ternyata mereka bisa menerima dan menganggap bantuan seperti ini lebih tahan lama dan bisa meningkatkan pendapatan untuk jangka panjang,” kata Fasilitator Teknik PMDM Alwi Chaidir.

Perubahan pola pikir seperti itulah yang menjadi sasaran PMDM. Selain mulai memikirkan keberlanjutan manfaat kegiatan, masyarakat juga mengubah pola pikir dari kegiatan yang bersifat keinginan dan kepentingan individu atau sekelompok orang, menjadi kegiatan yang mengutamakan kepentingan orang banyak.

Seperti pengerjaan talud dan penimbunan jalan di Kelurahan Malili yang telah membuka akses warga menuju jalan raya, sekolah, Posyandu, pasar, kebun, dan rumah ibadah. Kegiatan yang memberikan manfaat besar seperti itu dimasukkan warga ke dalam daftar usulan prioritas melalui musyawarah desa.

TK Al-Mukminun, Desa Pasi-Pasi

Di siklus sebelumnya, TK Al-Mukminun di Desa Pasi-Pasi mendapatkan bantuan PMDM untuk perbaikan fisik bangunan utama, sekaligus melengkapi sarana belajar. Di 2016, PMDM merealisasikan pembangunan RKB tambahan di satu-satunya TK di Desa Pasi-Pasi tersebut.

Kegiatan lain yang menarik adalah pembangunan Ruang Kelas Belajar (RKB) TK Al-Mukminun di Desa Pasi-Pasi. Di tahun anggarannya sebelumnya, TK tersebut mendapat bantuan berupa pengecatan dan pengadaan alat permainan luar. Di tahun ketiga, dana PMDM sektor pendidikan sebesar Rp75 juta sepenuhnya dialokasikan untuk membangun tambahan satu RKB di TK Al-Mukminun, mulai dari pekerjaan pondasi hingga pemasangan atap.

Namun pekerjaan belum tuntas. Pekerjaan pemasangan pintu dan jendela kaca belum bisa dilakukan karena keterbatan anggaran. Kegiatan akan dilanjutkan di PMDM tahun anggaran berikutnya.

Di Desa Baruga, penambahan ruang kelas dilakukan di TK Al-Misfalah. Uniknya, TK Al-Misfalah mengusung konsep RKB terbuka agar siswa tidak jenuh belajar di dalam kelas terus-menerus.

Tim Monev di Kecamatan Malili menggarisbawahi bahwa proses kegiatan bisa berjalan dengan baik dan hasilnya memuaskan ketika pelaku PMDM di desa memiliki komitmen yang sama untuk bekerja sesuai aturan. Kegiatan menjadi tidak maksimal, atau bahkan gagal, ketika pelaku hanya mengejar keuntungan materi. Hal itu masih dijumpai di Kecamatan Malili.

Untuk fase-fase mendatang, peran masyarakat diperlukan untuk mengevaluasi kinerja pelaku PMDM. Dalam musyawarah pembentukan Komite Desa dan pemilihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), masyarakat hendaknya memilih kandidat yang punya semangat besar untuk mengabdi bagi masyarakat dan punya jiwa pemberdayaan.

pakailah jamban sehat yang berkualitas yang terdapat di https://inaproinstrument.com/

Pemkot Terus Dukung Program Sanitasi Lingkungan

Pembangunan septictank individual yang digagas Dinas Perumahan dan Permukiman (Disrumkim) Kota Depok tahun ini, hampir rampung. Bahkan,  jumlah yang dibangun melampaui target yang ditetapkan yaitu sebanyak 1.045 lokasi.

Kepala Bidang Permukiman, Disrumkim Kota Depok, Sukanda mengatakan, pihaknya telah menyusun strategi untuk membuat 948 septictank di tahun ini. Namun, pada kenyataannya, melebihi dari target yang ditetapkan.

“Sekarang masih berjalan pembangunan fisiknya, rata-rata sudah 70 persen. Diperkirakan akhir Juni sudah selesai dengan jumlah 1.045 titik,” katanya kepada berita.depok.go.id  Selasa (08/06/21).

Dia menjelaskan, pembangunannya menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Depok. Yaitu sebesar Rp 10.428.000.000 

Sementara itu, Kepala Seksi Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Air Limbah Domestik, Disrumkim Kota Depok, Indra Kusuma menambahkan, ribuan septictank tersebut tersebar di 27 kelurahan. Di antaranya, Kelurahan Mampang, Ratujaya, Curug, Bojongsari, Serua, Pondok Petir, Bojongsari Baru, dan Pengasinan.

“Kamudian Sawangan, Cinangka, Sukamaju, Kalimulya, Abadijaya, Cisalak, dan Sukmajaya, Mekarjaya, Baktijaya, Cinere, Pangkalan Jati Baru, Pangkalan Jati, Sukamaju Baru, dan Cimpaeun, Cilangkap, Leuwinanggung, Jatijajar, Limo, dan Meruyung,” ujarnya.

“Kami terus mendorong pemenuhan fasilitasi Sanitarian kit / Kesling Kit yang layak untuk masyarakat serta mendorong wilayah bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) 100 persen di Depok,” pungkasnya. (JD 05/ED 01/EUD02)

Perilaku Masyarakat dalam Pengelolaan Sanitasi Lingkungan Pemukiman di Perkebunan Kopi Kabupaten Jember

Pemerintah Kabupaten Jember telah melakukan beberapa program untuk meningkatkan pelayanan Sanitarian kit / Kesling Kit di wilayahnya. Salah satunya di Kecamatan Silo yang merupakan wilayah perkebunan kopi yang cukup luas. Salah satu akses sanitasi masyarakat Silo terutama jamban sehat masih sangat rendah (45,3%). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan pendekatan metode Participatory Rural Appraisal (PRA). Data dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi, dan Focus Group Discussion (FGD).

Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi peran dan potensi masyarakat dalam pengelolaan sanitasi lingkungan pemukiman di perkebunan kopi Desa Sidomulyo Kecamatan Silo Kabupaten Jember. Hasil: Pengetahuan responden tentang sanitasi 36% buruk dan 46% sedang, sikap responden 14% buruk dan 72% sedang, perilaku 55% sedang dan 31% buruk, sebagian besar responden menggunakan mata air sebagai sumber MCK sebanyak 79% serta penyediaan air minum sebanyak 58%. Kepemilikan sumur sebagian besar responden (85%) tidak memiliki sumur, 67% tidak memiliki jamban serta 60% tidak memiliki kamar mandi, 50% dari yang tidak memiliki Jamban buang air besar di sungai dan di kebun, serta 62% kondisi rumahnya tidak sehat.

Dari hasil FGD diperoleh informasi bahwa masyarakat memiliki motivasi dalam meningkatkan pengelolaan sanitasi lingkungan serta terdapat kelompok masyarakat melalui kegiatan arisan, karang taruna dan pengajian para bapak yang dapat dijadikan sebagai media dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sanitasi lingkungan di pemukiman perkebunan kopi. Kesimpulan: Sebagian besar responden memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku tentang sanitasi yang sedang. Masih terdapat responden yang memiliki perilaku yang buruk tentang sanitasi lingkungan. Hal ini ditunjukkan dengan sebagian besar responden tidak memiliki sumur, tidak memiliki jamban serta kamar mandi di rumah. Separuh dari yang tidak memiliki jamban, BAB di sungai dan di kebun. Saran: Pemanfaatan lembaga sosial dalam meningkatkan perilaku sanitasi lingkungan masyarakat setempat.

GEBRAKAN GOTONG ROYONG SANITASI LINGKUNGAN

Komitmen dan langkah Pemerintah Kota Pekalongan dalam menggugah masyarakat untuk bergotong royong dan menjaga Sanitarian kit / Kesling Kit sekitar terus di lakukan. Setelah rutin digelar di beberapa tempat seperti kelurahan, rusunawa dan pasar, Pemerintah Kota Pekalongan dibantu personel TNI, POLRI, jajaran Forkopimda, komunitas serta masyarakat melakukan kerja bakti bersama yang diselenggarakan di Stadion Hoegeng Kota Pekalongan, Jumat pagi (13/3/2020).

Seluruh elemen masyarakat tersebut kompak membersihkan rumput, sampah dan mengangkut tumpukan sampah tersebut ke armada truk sampah yang telah disediakan. 

Walikota Pekalongan, HM Saelany Machfudz, SE mengungkapkan bahwa selain memupuk rasa kebersamaan antar seluruh elemen masyarakat, dalam kegiatan kerja bakti bersama pasca banjir ini juga menekankan sikap gotong royong peduli lingkungan.

“Kami mengucapkan terimakasih atas partisipasi seluruh unsur masyarakat yang telah hadir berpartisipasi ikut dalam kegiatan kerja bakti bersama ini. Semoga kegiatan ini tidak hanya kegiatan temporer saja, melainkan kita semua menyadari betul gotong royong peduli lingkungan ini harus  bisa terus digalakan untuk meminimalisir resiko-resiko bencana seperti banjir beberapa waktu lalu yang melanda Kota Pekalongan karena curah hujan yang tinggi,” terang Saelany.

Menurut Saelany, kerja bakti ini bisa dijadikan intropeksi bersama dan memberikan semangat masyarakat untuk menumbuhkan kembali rasa cinta pada lingkungan sekitar. Koordinasi penanganan resiko bencana juga terus diupayakan antara pemerintah daerah, provinsi dan pusat dengan terselesainya tanggul raksasa penahan banjir dan rob, normalisasi sungai-sungai seperti Sungai Meduri dan Sungai Bremi yang memang memerlukan penanganan khusus.

“Sebenarnya kegiatan ini bukan menjadi solusi satu-satunya banjir, hanya saja masyarakat mencoba berikhtiar mencari solusi yang lebih mudah dan juga menumbuhkan rasa cinta pada lingkungan sendiri dan menggalakkan kembali gotong royong yang akhir-akhir ini jarang terlihat. Pemerintah bersama seluruh unsur masyarakat juga diminta untuk tidak membuang sampah sembarangan karena bagaimanapun juga kebersihan lingkungan ini merupakan tanggung-jawab bersama yang harus senantiasa dijaga,” jelas Saelany.

Sanitasi Permukiman

Percepatan Pembangunan Sanitarian kit / Kesling Kit Permukiman (PPSP) adalah program nasional pembangunan sanitasi di Indonesia yang digagas oleh Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS) dengan mempromosikan Strategi Sanitasi Kota (SSK). SSK merupakan dokumen cetak biru berisi pembangunan sanitasi sebuah kota/kabupaten yang komprehensif. Program ini diresmikan tahun 2009 oleh Wakil Presiden Budiono dalam deklarasi yang dikeluarkan pada Konferensi Sanitasi Nasional (KSN) II.

PPSP diarahkan pada 3 sasaran, yakni:

  1. Menghentikan perilaku buang air besar sembarangan (BABS) pada tahun 2014, di perkotaan dan pedesaan.
  2. Pengurangan timbunan sampah dari sumbernya dan penanganan sampah yang ramah lingkungan
  3. Pengurangan genangan di 100 kabupaten/kota seluas 22.500 hektar.

Program ini juga untuk mendukung upaya Pemerintah Indonesia memenuhi tujuan-tujuan Millenium Development Goals (MDGs), khususnya yang terkait dengan Butir 7 Target ke-10 MDGs, yakni mengurangi hingga setengahnya jumlah penduduk yang tidak punya akses berkelanjutan pada air yang aman diminum dan sanitasi yang layak pada tahun 2015. Target PPSP adalah pada tahun 2015 dapat menjangkau 330 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Ternyata, hasil pencapaiannya jauh melebihi target. Sampai dengan tahun 2014 ini, telah 446 kota/kabupaten yang tercatat sebagai peserta program PPSP. Oleh sebab itu, PPSP diharapkan bisa menjadi payung bagi berbagai aktivitas terkait pembangunan sektor sanitasi yang berlangsung. Setiap kota/kabupaten mengimplelemntasikan pembangunan sanitasi dengan mengacu kepada SSK yang telah mereka buat.