Kelayakan Sanitasi di Pemukiman Sekitar Tempat Pembuangan Akhir

Di Indonesia, pengelolaan sampah dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu, pengumpulan dari sumber sampah, pengangkutan dari Tempat Penampungan Sementara (TPS), dan akan berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sampah dalam jumlah besar yang berasal dari wilayah tertentu akan ditampung di TPA. Open dumping dan landfill merupakan metode yang paling banyak digunakan di Indonesia. Metode open dumping pada TPA di Indonesia telah dilarang karena memberikan dampak negatif bagi lingkungan seperti, meningkatkan resiko terjadinya longsoran sampah, meningkatkan resiko kebakaran, serta meningkatnya pencemaran tanah, air dan udara di kawasan TPA dengan metode open dumping. Namun, karena biaya yang relatif murah dan kurang tegasnya penerapan regulasi mengenai TPA, menyebabkan metode open dumping masih sering digunakan. TPA dengan metode open dumping dan landfill harus disertai dengan sistem pengolahan air lindi dan memperhatikan sanitasi di sekitar TPA dengan tujuan untuk meminimalisasi pencemaran air, tanah, dan udara yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan penduduk pemukiman di sekitar TPA.

Aktifitas perekonomian sebagian masyarakat Indonesia yang berhubungan dengan sampah menjadi salah satu faktor berdirinya pemukiman penduduk di sekitar TPA. Namun, sebagian masyarakat yang tinggal di pemukiman sekitar TPA mengeluhkan gangguan lingkungan seperti timbulnya bau tidak sedap dan gangguan kesehatan seperti gangguan pernapasan, nyeri dada, penyakit kulit, cacingan, diare, mata perih, tenggorokan sakit dan terasa kering, dan pusing merupakan gangguan kesehatan yang banyak dialami oleh penduduk pemukiman di sekitar TPA. Gangguan kesehatan yang dialami oleh penduduk di pemukiman sekitar TPA yang disebabkan karena sanitasi pemukiman di sekitar TPA yang buruk.

TPA Piyungan merupakan salah satu TPA di Indonesia yang terletak di Provinsi D.I. Yogyakarta. TPA Piyungan digunakan untuk mengumpulkan sampah yang bersumber dari kegiatan masyarakat di tiga daerah yaitu, Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul. Luas wilayah TPA Piyungan adalah 12,5 ha. Berdasarkan SNI 03-32141, jarak minimal antara TPA dengan pemukiman penduduk adalah 500m. Namun, TPA Piyungan memiliki cakupan wilayah kurang dari 500m yang penuh dengan pemukiman penduduk. Penelitian dilakukan dengan mengkaji mengenai penilaian kondisi sanitasi dari masyarakat di sekitar TPA Piyungan. Lokasi penelitian berada di lima desa yang paling dekat dengan TPA Piyungan yaitu, Desa Ndapan, Desa Lengkong, Desa Ngablak, Desa Mbendo, dan Desa Mojolegi. Data primer didapatkan dari hasil observasi, data kuisioner, dan interview, sedangkan data sekunder didapatkan dari referensi dan regulasi yang berlaku. Penelitian ini memodifikasi perhitungan skala Likert untuk menghitung tingkat keberlanjutan sanitasi di Piyungan.Tiga skala dalam perhitungan skala Likert yang digunakan yaitu, kurang, cukup, dan baik. Variabel lingkungan dan variabel kesehatan merupakan dua jenis variabel yang digunakan untuk menilai keberlanjutan sanitasi lingkungan di pemukiman sekitar TPA Piyungan. Indikator yang digunakan untuk variabel lingkungan meliputi pemukiman, air bersih, air limbah, dan limbah padat. Penyakit kulit dan diare menjadi dua indikator yang digunakan untuk variabel kesehatan.

Hasil penelitian yang dilakukan di lima desa di sekitar TPA Piyungan menunjukkan bahwa dua desa yang berada di sekitar TPA Piyungan memiliki skor sanitasi berkelanjutan yang buruk. Lengkong dan Mojolegi merupakan dua desa dengan skor sanitasi berkelanjutan yang buruk di beberapa kategori yang telah ditetapkan. Ngablak dan Mbendo merupakan dua desa dengan skor sanitasi keberlanjutan yang tinggi diantara lima desa yang lain. Persentase sanitasi berkelanjutan di desa Mbendo sebesar 66,90% yang dapat dikategorikan menjadi sanitasi yang cukup jika dibandingkan dengan empat desa lainnya. Persentase sanitasi berkelanjutan di desa Ngablak dan desa Ndapan masing-masing sebesar 47,62% dan 38,10% dan dapat dikategorikan sebagai sanitasi yang cukup. Desa Ndapan dan Mojolegi mendapat persentase sanitasi berkelanjutan yang paling rendah yaitu sebesar 33,33%.

Ketersediaan fasilitas air bersih menjadi permasalahan utama yang dihadapi oleh lima desa di sekitar TPA Piyungan. Sumur bor yang terletak di dekat TPA merupakan sumber air bersih utama yang digunakan oleh lima desa di sekitar TPA Piyungan. Lokasi sumur bor yang terlalu dekat dengan TPA berpotensi tercemar oleh air lindi yang dihasilkan oleh TPA apabila tidak dilakukan pengolahan air lindi dengan baik. Air sumur yang tercemar oleh air lindi kemudian menyebabkan timbulnya bau dan meningkatkan transmisi penyakit seperti penyakit kulit dan diare. Oleh karena itu, peningkatan penyediaan fasilitas air bersih di lima desa sekitar TPA Piyungan menjadi hal penting yang perlu diperhatikan dan diperlukan pengolahan air lindi yang baik untuk meningkatkan sanitasi berkelanjutan di pemukiman sekitar TPA Piyungan.

Sumber : https://news.unair.ac.id/2021/10/26/kelayakan-sanitasi-di-pemukiman-sekitar-tempat-pembuangan-akhir/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *