Perilaku Hidup Bersih dengan Jamban Sehat

Suatu negara yang sehat berawal dari diri sendiri dan keluarga yang sehat juga. Banyak penafsiran bahwa sehat itu haruslah memiliki peralatan penunjang kesehatan yang lengkap dan memadai, sehingga tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tidak harus demikian, langkah yang paling sederhana untuk menjaga kesehatan sekaligus mencegah penyakit adalah hanya dengan melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau yang disingkat PHBS. Disini, pengertian PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga, atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan cerminan pola hidup keluarga yang senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga. Mencegah lebih baik daripada mengobati, prinsip kesehatan inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Program PHBS. PHBS dapat dilakukan di rumah tangga; di tempat umum; di sekolah. Dalam artikel ini yang akan dibahas adalah PHBS dalam lingkungan rumah tangga yang berkaitan dengan penggunaan jamban sehat. Akses pada sanitasi khususnya pada penggunaan jamban sehat, saat ini memang masih menjadi masalah serius di banyak negara berkembang, seperti Indonesia. Masih tingginya angka buang air besar pada sebarang tempat atau open defecation, menjadi salah satu indikator rendahnya akses ini. Sanitasi sesuai nomenklatur MDGs adalah pembuangan tinja. Termasuk dalam pengertian ini  meliputi jenis pemakaian atau penggunaan tempat buang air besar, jenis kloset yang digunakan dan jenis tempat pembuangan akhir tinja. Adapun dampak buruk dari BAB pada sembarang tempat adalah penularan penyakit, mengingat adanya transmisi penyakit dari tinja. Berbagai penyakit menular seperti hepatitis A, polio, kholera, dan lainnya merupakan penyakit yang terkait dengan akses penyediaan jamban. Dan sebagai salah satu indikator utama terjadinya pencemaran karena tinja ini adalah bakteri E.Coli. Diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya proses penularan penyakit antara lain kuman penyebab penyakit, sumber infeksi (reservoir) dari kuman penyebab, cara keluar dari sumber, cara berpindah dari sumber ke inang (host) baru yang potensial, cara masuk ke inang yang baru, serta inang yang peka (susceptible). Sedangkan proses pemindahan kuman penyakit dari tinja sampai inang baru dapat melalui berbagai perantara, antara lain air, tanah, makanan, tangan, atau serangga. Fungsi jamban dari aspek kesehatan lingkungan antara lain dapat mencegah berkembangnya berbagai penyakit yang disebabkan oleh kotoran manusia. Sementara dampak serius membuang kotoran di sembarang tempat menyebabkan pencemaran tanah, air dan udara karena menimbulkan bau. Pembuangan tinja yang tidak dikelola dengan baik berdampak mengkawatirkan terutama pada kesehatan dan kualitas air untuk rumah tangga maupun keperluan komersial. Jamban Keluarga Jamban merupakan fasilitas atau sarana pembuangan tinja. Menurut Kusnoputranto (1997), pengertian jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran sehingga kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab suatu penyakit serta tidak mengotori permukaan. Sedangkan pengertian lain menyebutkan bahwa pengertian jamban adalah pengumpulan kotoran manusia disuatu tempat sehingga tidak menyebabkan bibit penyakit yang ada pada kotoran manusia dan mengganggu estetika. Pemanfaatan jamban keluarga sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan kebiasaan masyarakat. Tujuan program JAGA (jamban keluarga) yaitu tidak membuang tinja ditempat terbuka melainkan membangun jamban untuk diri sendiri dan keluarga. Penggunaan jamban yang baik adalah kotoran yang masuk hendaknya disiram dengan air yang cukup, hal ini selalu dikerjakan sehabis buang tinja sehingga kotoran tidak tampak lagi. Secara periodic Bowl, leher angsa dan lantai jamban digunakan dan dipelihara dengan baik, sedangkan pada jamban cemplung lubang harus selalu ditutup jika jamban tidak digunakan lagi, agar tidak kemasukan benda-benda lain. Faktor terpenting lain yang harus diperhatikan adalah dalam menentukan jarak jamban dan sumber air bersih, disarankan 10 meter agar air bersih tidak terkontaminasi. Pemeliharaan jamban keluarga sehat yang baik adalah lantai jamban hendaknya selalu bersih dan tidak ada genangan air, bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang  jamban selalu dalam keadaan bersih, didalam jamban tidak ada kotoran terlihat, tidak ada serangga (kecoa, lalat) dan tikus berkeliaran, tersedia alat pembersih dan bila ada kerusakan segera diperbaiki. Manfaat dan Fungsi Jamban Keluarga Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban yang baik dan memenuhi syarat kesehatan akan menjamin beberapa hal, yaitu: Melindungi kesehatan masyarkat dari penyakit; Melindungi dari gangguan estetika, bau dan penggunaan saran yang aman; Bukan tempat berkembangnya serangga sebagai vektor penyakit; Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan . Jamban Komunal Pada kawasan padat penduduk, aspek kesehatan masyarakat kerap dipertaruhkan. Jangankan memikirkan rumah yang sehat, jarak antara jamban dan pusat air bersih pun tidak terpikirkan. Jelas, kondisi ini berpengaruh buruk pada kesehatan dan berpotensi menimbulkan penyakit seperti diare. Maka sanitasi difokuskan pada ketersediaan jamban dan penyediaan air bersih. Dua hal ini sangat berkaitan dengan potensi timbulnya penyakit di musim panas, seperti diare, demam berdarah, thypus dan infeksi saluran pernafasan. Penyakit-penyakit ini dapat menyebar karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi. Misalnya saja, ada orang yang BAB di sungai. Ketika air sungai mengering pada musim panas, kuman dan bakteri pada tinja berpotensi menyebarkan penyakit. Solusi agar masyarakat tidak BAB di sungai adalah dengan membangun jamban komunal. Misalnya untuk 10 keluarga jambannya di satu tempat begitu seterusnya. Namun, jamban komunal ini pada prakteknya tidaklah mudah. Masyarakat harus memiliki komitmen kuat untuk terus menjaga keberlangsungan jamban dalam jangka waktu panjang. Pertimbangan tempat yang akan dijadikan jamban komunal, lalu bagaimana pengelolaannya, juga jalur septictanknya dimana, iuran perawatannya seperti apa. Belum lagi ada warga yang suka kebersihan tapi ada juga yang tidak peduli.  Permasalahan jamban komunal memang sangat kompleks. Pembangunan Jamban Komunal dimaksudkan untuk tujuan; Mengurangi pencemaran air dan tanah yang menimbulkan dampak yang luas bagi masyarakat sekitar; Menyediakan sarana dasar dasar sanitasi yang layak bagi masyarakat sesuai dengan tujuan MDG’s; Meningkatnya kesadaran masyarakat  untuk peduli terhadap kesehatan sanitasi lingkungan; Mencegah penyebaran penyakit terutama kolera akibat pembuangan tinja di sembarang tempat. Sebagai penutup diharapkan untuk menumbuhkan kesadaran dari dalam diri masyarakat untuk untuk selalu menggunakan jamban yang sehat tidak merusak lingkungan dan pencemarannya. Selain itu diperlukan juga kontrol sosial budaya masyarakat untuk lebih menghargai sanitasi lingkungan. Peraturan yang tegas dari pemerintah juga sangat diharapkan karena jika tidak maka perilaku masyarakat untuk menggunakan jamban  yang sehat tidak optimal selain itu  mengingat salahsatu butir dari 8 butir tujuan pembangunan millennium (Millenium Development Goals) adalah memastikan kelestarian lingkungan hidup dengan upaya untuk memberikan sanitasi yang layak bagi masyarakat. (Dari berbagai referensi dan sumber yang terpercaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *