Dukung Sanitasi Sehat, Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas Sumbangkan Lebih dari 1.000 Jamban

 Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas (Ydkk) baru saja memberikan bantuan 40 jamban keluarga untuk Desa Pucungrejo, Muntilan, Magelang. Acara ini merupakan bagian dari komitmen YDKK dalam upaya pemenuhan kebutuhan sanitasi sekaligus peningkatan kesehatan masyarakat.

“Berangkat dari Desa Pucungrejo, Muntilan, dan dari Malang, semoga gerakan pembangunan jamban sehat ini bisa menjadi gerakan yang dilakukan dalam skala lebih luas dan melibatkan lebih banyak komponen di masyarakat,” ujar Anung Wendyartaka, Manajer Eksekutif YDKK, Kamis (12/5).

Dalam prosesnya, Anung menjelaskan, kegiatan ini tak lepas dari masalah, terutama menyangkut kesiapan masyarakat.

”Karena keterbatasan lahan, warga di Malang, misalnya, ada yang terpaksa membobol lantai, membangun septic tank di teras atau di bagian dalam rumah. Bagi warga yang tidak siap dan kurang menyadari nilai penting jamban sehat, jelas hal ini akan sulit dilakukan,” terang Anang.

Menurut Edi Triyanto, pegiat sosial dan pendamping masyarakat, pembuangan tinja merupakan hal yang vital, sehingga mesti dikelola secara benar. “Satu gram limbah tinja dapat mengandung hingga 3 miliar bakteri, sementara tiap orang rerata membuang 250 gram tinja per hari,” terangnya.

Terlepas dari itu, sebelumnya YDKK telah menyumbang 1.000 jamban yang disalurkan melalui Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur.

Pada 2021, YDKK mengubah pola pemberian bantuan dengan langsung melibatkan masyarakat. Dalam pembangunan jamban di Pucungrejo misalnya, YDKK menggandeng Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Semali Asri.

Asri Fahrudin, Ketua KSM Semali Asri, menyampaikan bahwa bantuan 40 jamban setidaknya dapat membantu 160 jiwa untuk buang air besar secara benar.

Sumber : https://www.kompas.tv/article/288186/dukung-sanitasi-sehat-yayasan-dana-kemanusiaan-kompas-sumbangkan-lebih-dari-1-000-jamban

Ya Ampun, 30 Ribu Warga Kota Serang Belum Punya Jamban

Walikota Serang, Syafrudin berharap di tahun 2024 angka Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Kota Serang menurun. Karena data sementara yang belum memiliki MCK atau Jamban keluarga di Kota Serang, seluruhnya mencapai angka 30.000. Data itu tercatat dari tahun 2019.

Hal ini disampaikan Syafrudin pada saat kegiatan Deklarasi Stop (BABS) di Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Senin (31/01/2022).

Dalam kegiatan tersebut Kecamatan Cipocok Jaya meraih prestasi sebagai kecamatan di Kota Serang yang bebas dari BABS (Buang air besar sembarangan). Ia berharap pembangunan MCK atau Jamban Keluarga terpenuhi di seluruh Kecamatan di Kota Serang.

“Alhamdulillah Sudah 100% dari 2017 sampai 2022 ini yang sebelumnya berjumlah 1,327 yang belum memiliki MCK/jamban keluarga, ini berkat kerjasama seluruh pihak.” ucapnya.

Syafrudin berharap deklarasi pada hari ini dapat memotivasi seluruh Kecamatan di Kota Serang. Sehingga semua keluarga di Kota Serang mempunyai fasilitas jamban keluarga.

“Ini sebagai contoh untuk Kecamatan lain, agar mengikuti Kecamatan Cipocok, karena terdapat tim STBM (Sanitasi Lokal Berbasis Masyarakat) Kota yang siap mendukung kegiatan seperti ini,” ucapnya.

Sumber : https://www.bantennews.co.id/ya-ampun-30-ribu-warga-kota-serang-belum-punya-jamban/

57 Juta warga Indonesia tidak punya jamban

Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pemenuhan kebutuhan sanitasi dasar, terutama jamban layak atau sarana pembuangan limbah manusia. Kondisi tersebut membuat banyak masyarakat Indonesia harus buang air besar sembarangan (BABS) di sungai atau ladang. Jumlahnya pun tidak main-main. Bank Dunia menyebut jumlah orang Indonesia yang terpaksa membuang hajat sembarangan mencapai 50 juta atau seperlima lebih dari populasi Indonesia yang menyentuh 240 juta orang. Sebagian besar dari mereka yang masih buang hajat sembarangan tinggal di pedesaan.

“Setengah dari populasi masyarakat perdesaan tidak memiliki akses sanitasi layak, dan dari 57 juta orang yang melakukan BABS, 40 juta di antaranya tinggal di perdesaan,”demikian ditulis siaran pers Bank Dunia terkait pertemuan global antara Bank Dunia dan menteri-menteri keuangan, air dan sanitasi yang digelar di Washington, Jumat 11 April 2014 waktu Amerika Serikat atau pagi waktu Indonesia. Indonesia bukan satu-satunya negara yang masyarakatnya masih banyak yang buang air besar sembarangan. Di seluruh dunia, total orang yang terpaksa buang hajat sembarangan mencapai Rp1 miliar orang.

Namun, jumlah orang yang tidak memiliki akses langsung terhadap jamban layak jauh lebih besar yakni 2,5 miliar. Bank Dunia, mengajak para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan segera dalam penyediaan akses layanan sanitasi dasar untuk masyarakat. Sanitasi dasar yang memadai juga akan mencegah penyebaran penyakit. Buang air besar sembarangan menyebarkan virus dan kuman dari tinja melalui makanan, air, dan pakaian. Bank Dunia menyebutkan pihaknya secara berkelanjutan telah mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan akses sanitasi,melalui proyek-proyek air bersih dan sanitasi yang menerapkan pendekatan programatik skala kabupaten/kota.

“Pendekatan berbasis kabupaten/kota seperti ini akan membantu Indonesia mencapai target cakupan sanitasi 100 persen,” kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves dalam siaran pers tersebut. Terkait sanitasi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebenarnya telah merancang target agar kebutuhan infrastruktur dasar seperti sanitasi dan listrik bisa dipenuhi pada 2019 mendatang.

Sumber : https://nasional.sindonews.com/berita/853477/15/57-juta-warga-indonesia-tidak-punya-jamban

Rapat Persiapan Pemantapan Peresmian Pembangunan Mahyani dan Jamban Keluarga

Didampingi Koordinator Bidang Pertanian, Syamsul Hidayat, S.Pt., Kepala Bidang Perekonomian dan SDA Bappeda Provinsi NTB, Iskandar Zulkarnain, ST., M.Si., memimpin rapat Persiapan Pemantapan Peresmian Pembangunan Rumah Layak Huni (Mahyani) dan Jamban Keluarga dirangkai dengan Deklarasi 3 STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) di Kabupaten Lombok Timur, dihadiri perwakilan Tim Panitia 3 Pilar STBM Kabupaten Lombok Timur, serta perangkat daerah terkait Lingkup Pemerintah Provinsi NTB. Bertempat di ruang rapat Lakey Bappeda Provinsi NTB, Selasa 8 Maret 2022.

Kegiatan ini sebagai salah satu program penanggulangan kemiskinan yang didukung dan dilaksanakan oleh BAZNAS NTB melalui dana ZIS di sepuluh Kabupaten/Kota se-NTB. Harapannya dengan rumah layak huni (Mahyani) dan Jamban Keluarga yang diintegrasikan dengan perbaikan sanitasi dapat menurunkan kemiskinan, meningkatkan kesehatan lingkungan dan banyak aspek lainnya.

Dirangkainya Deklarasi 3 STBM juga dapat memberikan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Indikator outcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

Sedangkan indicator output STBM antaralain: Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF); Setiap rumahtangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga; Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.

Jamban : https://bappeda.ntbprov.go.id/rapat-persiapan-pemantapan-peresmian-pembangunan-mahyani-dan-jamban-keluarga/

Mas Poer, Makin Berkibar di Bisnis Jamban

Mas Poer kini sudah mantap untuk berbisnis sanitasi . Keputusan ini beliau ambil setelah mengetahui peluang pasar yang sangat menguntungkan di bisnis sanitasi. “Ini adalah kesempatan untuk berkontribusi dalam pembangunan Sanitasi di Kabupaten Dompu,” ujarnya, “karena menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu Tahun 2016 masih ada 26.255 KK yang belum memiliki jamban sehat.” Menurutnya, keputusan besar ini mantap ia ambil setelah mengikuti “Pelatihan Wirausaha Sanitasi” yang difasilitasi oleh STBM SEHATI Project.

Pak Rudi Poertomo, yang akrab dipanggil Mas Poer, tinggal di Desa Lepadi, Kecamatan Pajo di Kabupaten Dompu. Bapak dari empat orang anak ini sehari – harinya adalah pemilik Toko Bangunan Lepadi Jaya di desanya. Pada Bulan November 2016 ia berkesempatan mengikuti pelatihan wirausaha sanitasi yang difasilitasi oleh Plan International Indonesia dan SIMAVI dimana pada kesempatan itu juga diinisiasi terbetuknya Forum Pengusaha Sanitasi  (FORPAS) dan Mas Poer terpilih sebagai ketuanya. Ketimbang sebagai pengusaha ia lebih senang dikenal sebagai “dealer jamban” karena inovasi yang ia lakukan untuk pemasaran paket jamban sehat adalah mengadopsi pembiayaan “dealer sepeda motor” yang umum dan popular  di masyarakat.

“Hanya dengan memberi uang muka Rp.50.000,-, maka dalam waktu 2 x 24 jam FORPAS akan bangunkan paket jamban sehat di rumah Anda. Sampai sekarang, cuma kami yang berani kasi kredit jamban di Dompu!” ujarnya dengan penuh semangat dalam sesi Promosi Kesehatan terkait Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yaitu suatu proses perubahan perilaku hidup bersih dan sehat dengan menekankan pada lima pilar perubahan perilaku yaitu;

1. Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS) 2. Selalu Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan air mengali 3. Pengolahan Air Minuman dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT) 4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PSRT) 5. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga (PLRT)

Adapun tujuan dari difasilitasinya pelatihan wirausaha sanitasi oleh Proyek STBM SEHATI ini adalah agar warga masyarakat, termasuk yang paling miskin memiliki akses ke sarana sanitasi terutama kloset dan jamban sehat yang terjangkau dan sekaligus berkualitas.

Sebelumnya, Mas Poer merasa prihatin dengan keadaan penduduk di desanya yang enggan membangun jamban karena masih di anggap barang mewah. Walaupun sudah dipicu berulang – ulang kendala keuangan menjadi penghalang untuk membangun jamban sehat. Jadi jangan heran jika kasus diare di kecamatan tempat ia tinggal masih sangat tinggi, tahun 2016 saja tercatat ada 2654 kasus diare berdasarkan data dari Puskesmas Ranggo. Hal inilah yang membuat ia tertantang dan akhirnya mendaftar untuk mengikuti seleksi sebagai peserta pelatihan wirausaha sanitasi.

Pasca terpilih sebagai Ketua FORPAS ia langsung membentuk dan mengkoordinir 5 sentra produksi jamban sehat yang tersebar di Kecamatan Hu’u, Kecamatan Pajo, Kecamatan Dompu dan Kecamatan Manggelewa. Berbagai varian kloset murah meriah dengan harga Rp. 85.000,- ia produksi dari yang untuk dewasa sampai kloset ramah anak. Selain itu untuk proses pembiayaan kredit jamban, Mas Poer juga bekerja sama dengan Bank Prekreditan Rakyat, Koperasi dan bahkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES).

Mengawasi Pembangunan Jamban di Desa Sawe

Kloset yang ia pasarkan diberi merek “TiM” yang merupakan kepanjangan dari “Tai is Money”. Yang menarik adalah ia juga melibatkan para remaja putri dan ibu rumah tangga dalam bisnis sanitasi ini baik sebagai tenaga pemasaran ataupun sebagai unit produksi, dimana hal ini jarang ditemui di bisnis lainnya.

“Saya sangat berharap pemerintah terutama Pak Bupati peduli terhadap isusanitasi ini. Percuma saja hasil pertanian meningkat tapi masyarakatnya masih banyak yang buang hajat sembarangan. Itu tidak sehat dan juga tidak bermartabat!” ujarnya saat mengikuti Rapat Koordinasi STBM tingkat Kabupaten Dompu.

Ia juga berharap bahwa FORPAS juga masih terus di damping oleh pemerintah maupun pihak lain yang peduli pada isu sanitasi. Mas Poer berharap bahwa forum yang di pimpinnya ini di latih lagi terkait proses promosi , pemasaran dan pengembangan produk sanitasi lainnya sepert wastafel, tempat sampah, keramik air dan lainnya. Mas Poer sangat yakin dengan dukungan berbagai pihak FORPAS bisa berperan dalam pembangunan sanitasi di Kabupaten Dompu menuju kabupaten yang terbebas dari kebiasaan buang hajat sembarangan.

Jamban : http://stbm.kemkes.go.id/app/news/11515/mas-poer-makin-berkibar-di-bisnis-jamban

Jamban Sehat Tzu Chi, untuk Sanitasi yang Lebih Baik

Program Jamban Sehat di Kabupaten Banyumas merupakan bagian dari Program Pembangunan 3.500 Jamban Sehat di Jawa Tengah.

Pada tanggal 28 Februari 2022, relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Jajaran Kodim 0701/Banyumas meninjau pembangunan jamban yang dilaksanakan di 2 desa prioritas yakni Kecamatan Pekuncen dan Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, yang ditempuh 2 jam perjalanan dari Kota Purwokerto, Jawa Tengah.

Pembangunan jamban sehat di Banyumas dilakukan sebanyak 226 jamban di 24 desa, kondisi ini mengingat desa tersebut merupakan desa yang sebagian masyarakatnya masih memiliki kesulitan dalam akses sanitasi yang bersih dan layak. Masyarakat harus pergi ke kebon, semak-semak atau sungai terdekat untuk dapat buang air besar. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan terutama ketika musim hujan datang dan kondisi malam yang rentan terhadap ancaman ular.

Program Jamban Sehat di Kabupaten Banyumas merupakan bagian dari Program Pembangunan 3.500 Jamban Sehat di Jawa Tengah.

Sebelum dibangun jamban yang layak dan sehat, umumnya warga jika ingin buang air besar harus ke kebon bambu, kolam belakang rumah (air tidak mengalir), ataupun sungai.

Salah satu warga yang mendapatkan bantuan dalam program Jamban Sehat ini adalah Ibu Rimpen, warga Desa Pekuncen. Sehari-hari Rimpen tinggal bersama anak, menantu, dan cucunya yang baru lahir. Ibu Rimpen sudah puluhan tahun menempati rumahnya namun belum dapat membangun jamban sendiri. Terpaksa, untuk kegiatan buang air besar (BAB), ia dan seluruh keluarganya pergi ke hutan bambu (kebon) untuk buang air besar dan apabila hujan besar mereka akan menumpang di toilet umum musala. “Matur nuwun (terima kasih) Bapak-bapak TNI, pemerintah dan Tzu Chi yang sudah membantu kami,” katanya.

Warga lainnya adalah Muffidah, warga Desa Sidamulih yang tinggal sendiri. Sebelumnya ia harus menumpang ke rumah anaknya untuk pergi buang air besar. “Saya biasanya jalan ke rumah anak saya, ya dari dulu tidak punya jamban. Saya senang mendapatkan bantuan dan saya akan menggunakan jamban ini baik-baik,” kata Muffidah.

Matur nuwun (terima kasih) Bapak-bapak TNI, pemerintah dan Tzu Chi yang sudah membantu kami,” kata Ibu Rimpen.

Muffidah, warga Desa Sidamulih sebelumnya harus menumpang ke rumah anaknya untuk pergi buang air besar.

Rasa senang karena akhirnya bisa memiliki jamban sendiri juga dirasakan oleh Mustafid, warga Desa Sidamulih. Sehari-hari Mustafid bekerja sebagai pengumpul getah pinus yang tinggal dengan istri dan 4 anaknya. “Saya tidak menyangka bisa memiliki jamban sendiri. Sebenarnya ingin bisa memiliki jamban sendiri, tetapi dengan pendapatan yang pas-pasan ini sangat sulit terwujud,” ungkap Mustafid.

“Dulu sebelum ada jamban, kalau mau buang air harus di atas kolam belakang rumah, kasihan liat anak masih kecil kalo malam dan hujan mau buang air, sangat terima kasih Buddha Tzu Chi, pemerintah Jawa Tengah dan TNI atas bantuan ini,” kata Mustafid bersyukur.

Sebelum ada jamban, keluarga Mustafid kalau buang air harus di atas kolam belakang rumah. “Kasihan liat anak masih kecil kalo malam dan hujan mau buang air, sangat terima kasih Buddha Tzu Chi, pemerintah Jawa Tengah dan TNI atas bantuan ini,” kata Mustafid bersyukur.

Setelah terbangun jamban oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kodam Diponegoro, masyarakat merasa bersyukur bisa menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan memiliki jamban sehat sehingga tidak perlu lagi pergi ke sungai, hutan bambu, atau kolam. Dan yang lebih penting lagi, sanitasi warga kini menjadi lebih bersih dan sehat, yang secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap kualitas kesehatan dan kehidupan masyarakat.

Jamban : https://www.tzuchi.or.id/read-berita/jamban-sehat-tzu-chi-untuk-sanitasi-yang-lebih-baik/9968

Jamban Sehat Dian Desa

Jamban Sehat Dian Desa hadir untuk menjadi salah satu solusi atas masalah sanitasi. Jamban Sehat Dian Desa dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kondisi geografis, alam, sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Material jamban terbuat dari bahan-bahan yang ringan, kuat serta tahan lama.

KEUNGGULAN. Material berkualitas, ringan dan tahan lama; Mudah dipasang; Cocok di kawasan pegunungan maupun pesisir pantai; Dapat dipindah-pindah; Bersih, aman dan sehat; Mudah dibersihkan; Memenuhi standar kesehatan; Bebas biaya pasang dan transportasi.

SEPTIK TANK JAMBANSekilas terlihat bahwa septik tank ini kecil dan cepat penuh namun sebenarnya septik tank ini merupakan tempat proses pengolahan kotoran.

Terdiri dari 2 bilik. Bilik pertama merupakan ruang yang menampung kotoran dari jamban. Di bilik ini, kotoran akan terolah oleh bakteri-bakteri yang ada selama lebih kurang 18 jam kemudian terhancurkan lalu akan masuk ke bilik berikutnya. Kotoran tidak lagi seperti yang sebelumnya dan sudah hancur. Dengan proses yang sama kotoran akan terurai lagi dan akan terbuang ke lubang peresapan dalam bentuk air dan sudah aman terhadap lingkungan.

PENGGUNAAN DAN PEMILIHAN MATERIAL KELAS SATU GUNA MENJAMIN MASA PAKAI YANG PANJANG. Jamban Sehat DD menggunakan bahan alumunium pada keseluruhan kerangkanya sehingga kerangka akan tahan lama dan bebas karat.

Sedangkan untuk lantai, Jamban Dian Desa (JDD) menggunakan material khusus yang tidak licin apabila terkena air sehingga meminimalkan kecelakaan pada waktu penggunaan (terpeleset).

Material dinding juga dipilih menggunakan bahan yang memiliki ketahanan terhadap sinar UV matahari.

FRAME ALUMINIUM. Seluruh struktur kerangka JDD menggunakan material alumunium sehingga konstruksi ringan, kuat dan bebas karat.

MATERIAL KHUSUS UNTUK DINDING. Jamban menggunakan material khusus untuk dinding di mana material ini memiliki ketahanan yang baik terhadap sinar ultraviolet.

Bentuk serta tiap lekukan dari JDD memiliki tujuan tersendiri yang kesemuanya menghasilkan sebuah sistem sanitasi yang mudah untuk digunakan dan tidak mencemari lingkungan sekitarnya.

Sumber : https://www.diandesa.org/daily-blog-project-news/jamban-sehat-dian-desa/

GERAKAN PEDULI JAMBAN SEHAT BERSAMA LINTAS PROGRAM DAN SEKTOR

Program promosi kesehatan dan Kesehatan Lingkungan UPT Puskesmas Sumberjaya bekerjasama mengadakan sebuah gerakan peduli jamban sehat.Kegiatan ini berisikan sosialisasi jamban sehat yang dihadiri sebanyak 100 warga Pekon yang tidak memiliki jamban sehat.

 Sosialisasi ini bertujuan untuk membantu warga tentang pengetahuan pentingnya hidup sehat serta tidak buang air besar sembarangan, selain itu sosialisasi ini memberikan pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang dibawa oleh lalat karena tidak adanya jamban bersih.

Dengan adanya egiatan ini diharapkan adanya perubahan dari masyarakat desa untuk lebih maju serta bisa mengembangkan potensi secara mandiri khususnya tentang jamban sehat.

Sumber : https://dinkes.lampungbaratkab.go.id/detailpost/gerakan-peduli-jamban-sehat-bersama-lintas-program-dan-sektor

57 Juta warga Indonesia tidak punya jamban

Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pemenuhan kebutuhan sanitasi dasar, terutama jamban layak atau sarana pembuangan limbah manusia. Kondisi tersebut membuat banyak masyarakat Indonesia harus buang air besar sembarangan (BABS) di sungai atau ladang. Jumlahnya pun tidak main-main.

Bank Dunia menyebut jumlah orang Indonesia yang terpaksa membuang hajat sembarangan mencapai 50 juta atau seperlima lebih dari populasi Indonesia yang menyentuh 240 juta orang. Sebagian besar dari mereka yang masih buang hajat sembarangan tinggal di pedesaan.

“Setengah dari populasi masyarakat perdesaan tidak memiliki akses sanitasi layak, dan dari 57 juta orang yang melakukan BABS, 40 juta di antaranya tinggal di perdesaan,”demikian ditulis siaran pers Bank Dunia terkait pertemuan global antara Bank Dunia dan menteri-menteri keuangan, air dan sanitasi yang digelar di Washington, Jumat 11 April 2014 waktu Amerika Serikat atau pagi waktu Indonesia.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang masyarakatnya masih banyak yang buang air besar sembarangan. Di seluruh dunia, total orang yang terpaksa buang hajat sembarangan mencapai Rp1 miliar orang. Namun, jumlah orang yang tidak memiliki akses langsung terhadap jamban layak jauh lebih besar yakni 2,5 miliar.

Bank Dunia, mengajak para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan segera dalam penyediaan akses layanan sanitasi dasar untuk masyarakat. Sanitasi dasar yang memadai juga akan mencegah penyebaran penyakit. Buang air besar sembarangan menyebarkan virus dan kuman dari tinja melalui makanan, air, dan pakaian.

Bank Dunia menyebutkan pihaknya secara berkelanjutan telah mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan akses sanitasi,melalui proyek-proyek air bersih dan sanitasi yang menerapkan pendekatan programatik skala kabupaten/kota. “Pendekatan berbasis kabupaten/kota seperti ini akan membantu Indonesia mencapai target cakupan sanitasi 100 persen,” kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves dalam siaran pers tersebut.

Terkait sanitasi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebenarnya telah merancang target agar kebutuhan infrastruktur dasar seperti sanitasi dan listrik bisa dipenuhi pada 2019 mendatang.

Sumber : https://nasional.sindonews.com/berita/853477/15/57-juta-warga-indonesia-tidak-punya-jamban

Jamban Sehat

Pencemaran air adalah masuknya atau di masukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkanya (PP No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air). Pencemaran air oleh virus, bakteri patogen, dan parasit lainnya atau oleh zat kimia dapat terjadi pada sumber air   ataupun terjadi pada saat pengolahan air tersebut.  Beberapa mikroba patogen biasanya ditemukan di dalam air limbah domestik dan  menjadi agen penyebab pencemaran air adalah bakteri, virus .

Mikroba patogen yang sering ditemukan di dalam air terutama adalah bakteri-bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan seperti Vibrio cholerae penyebab penyakit kolera, Shigella dysenteriae penyebab disenteri basiler, Salmonella typosa penyebab tifus dan S. paratyphi penyebab paratifus, virus polio dan hepatitis, dan Entamoeba histolytica penyebab disentri amuba. Salah satu faktor penting yang menyebabkan pencemaran   air /sumber air   yaitu sarana pembuangan kotoran / jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Hal tersebut menyebabkan air sumur tidak lagi  memenuhi syarat kesehatan terutama dari segi bakteriologis. Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui air perlu dilakukan pengendalian terhadap sumber-sumber pencemar air yaitu dengan cara penggunaan jamban sehat.  Jamban sehat efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit. Oleh karena itu, penting sekali mengetahui bagaimana membuat jamban yang sehat.

Seperti apa  jamban sehat itu?

Berdasarkan Permenkes No. 3 Tahun 2014 tentang STBM bahwa kondisi jamban yang saniter merupakan kondisi fasilitas sanitasi yang memenuhi standar dan persyaratan kesehatan yaitu:

a.  Tidak mengakibatkan terjadinya penyebaran langsung bahan-bahan yang berbahaya bagi manusia akibat pembuangan kotoran manusia; dan

b.  Dapat mencegah vektor pembawa penyakit untuk menyebarkan penyakit pada pemakai dan lingkungan sekitarnya.

Jamban sehat harus dibangun, dimiliki, dan digunakan oleh keluarga dengan penempatan (di dalam rumah atau di luar rumah) yang mudah dijangkau oleh penghuni rumah.

Standar dan persyaratan kesehatan bangunan jamban terdiri dari :

a)  Bangunan atas jamban (dinding dan/atau atap)

Bangunan atas jamban harus berfungsi untuk melindungi pemakai dari gangguan cuaca dan gangguan lainnya, terbuat dari bahan yang kuat, pencahayaan dan ventilasi cukup, serta pintu membuka keluar.

b)  Bangunan tengah jamban

Terdapat 2 (dua) bagian bangunan tengah jamban, yaitu:

–  Lubang tempat pembuangan kotoran (tinja dan urine) yang saniter dilengkapi oleh konstruksi leher angsa. Pada konstruksi sederhana (semi saniter), lubang dapat dibuat tanpa konstruksi leher angsa, tetapi harus diberi tutup.

–  Lantai Jamban terbuat dari bahan kedap air, tidak licin, dan mempunyai saluran untuk pembuangan air bekas ke Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL).

c)  Bangunan Bawah

Merupakan bangunan penampungan, pengolah, dan pengurai kotoran/tinja yang berfungsi mencegah terjadinya pencemaran atau kontaminasi dari tinja melalui vektor pembawa penyakit, baik secara langsung maupun tidak langsung. Terdapat 2 (dua) macam bentuk bangunan bawah jamban, yaitu:

–  Tangki Septik, adalah suatu bak kedap air yang berfungsi sebagai penampungan limbah kotoran manusia (tinja dan urine). Bagian padat dari kotoran manusia akan tertinggal dalam tangki septik, sedangkan bagian cairnya akan keluar dari tangki septik dan diresapkan melalui bidang/sumur resapan. Jika tidak memungkinkan dibuat resapan maka dibuat suatu filter untuk mengelola cairan tersebut.

–  Cubluk, merupakan lubang galian yang akan menampung limbah padat dan cair dari jamban yang masuk setiap harinya dan akan meresapkan cairan limbah tersebut ke dalam tanah dengan tidak mencemari air tanah, sedangkan bagian padat dari limbah tersebut akan diuraikan secara biologis.

Sumber : https://www.dinkes.jogjaprov.go.id/berita/detail/jamban-sehat-jamban-sehat-jamban-sehat

Stadion Di Kelurahan Air Jamban Akan Dialih Fungsikan

Kepala Dinas Cipta karya dan Tata Ruang (CKTR) Kabupaten Bengkalis H. Safril Buchari mengatakan stadion yang ada di Jalan Stadion Kelurahan Air Jamban akan dialih fungsikan menjadi Stadion Motor Cross. Memang awalnya stadion ini dipergunakan untuk lapangan bola, namun karena melihat tempat juga kondisi yang tidak memungkinkan.

“Stadion yang ada di Kelurahan Air Jamban ini bisa sangat bermanfaat nantinya, tidak terbengkalai seperti ini. Bagaimana pun juga Dinas CKTR Kabupaten Bengkalis akan memberikan yang terbaik demi menunjang olah raga yang ada di Kecamatan Mandau,jelasnya saat meninjau stadion yang ada di Jalan Stadion Kelurahan Air Jamban.

Dikatakannya, kecamatan Mandau banyak mencetak bibit ? bibit atlet, oleh karena itu Dinas CKTR akan memfasilitasi saran demi kemajuan oleh raga di Kecamatan Mandau 2012 nanti. “Kan sayang juga kalau atlet, atlet kita tidak punya sarana, padahal mereka merupakan aset Pemkab Bengkalis. Dinas CKTR Kabupaten Bengkalis sangat mendukung kemajuan yang ada di Kecamatan Mandau dan Pinggir dengan memberikan yang terbaik,”paparnya.

Kadis CKTR H. Safril Buchari mengatakan ksangat optimis dengan proyek sebanyak 104 di Kecamatan Mandau dan Pinggir selesai tepat waktu. ?Saya sangat terkesan dengan kinerja UPTD CKTR Kecamatan Mandau dan Pinggir yang sigap dalam menyelesaikan proyek yang ada. Saya pun berharap dengan banyaknya proyek Dinas CKTR di Kecamatan Mandau dan Pinggir dapat selesai sebelum deadline,? ungkap Safril yang beberapa waktu lalu baru saja pulang menunaikan ibadah haji.

“Saya melihat dalam proyek rehab Stadion Mini Pokok Jengkol masih ada yang kurang. Kekurangan itu kenapa hanya rehab lahan parkir dan juga stadion saja, seharusnya rehab secara keseluruhan. Nantinya, kalau Stadion Mini Pokok jengkol ini sudah rampung secara keseluruhan akan kami serahkan kepada pengelola melalui Dinas Perlengkapan. Mungkin tahun 2012 nanti kami akan ajukan masalah pemeliharaan rumput yang ada di Stadion Mini Pokok Jengkol, katanya. 

Sumber : https://www.google.com/search?q=berita+jamban&sxsrf=ALiCzsbfDsap3g0dlGs5f5diOyRKKRB7sg:1655784610253&ei=okSxYquTD-iC4-EP48S-qAg&start=20&sa=N&ved=2ahUKEwir7JKs1r34AhVowTgGHWOiD4U4ChDy0wN6BAgBEDo&biw=1920&bih=969&dpr=1

Dinkes: Akses Jamban Warga Jateng Capai 95,6%, 3,4% Masih BAB Sembarangan

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan akses jamban bagi penduduk Jawa Tengah sudah mencapai 95,6 persen di tahun 2021. Persentase ini mengalami peningkatan sejak 2013.

Dalam webinar mengenai stop buang air besar sembarangan atau populer dengan istilah open defecation free (ODF), Yulianto menyampaikan pemaparan bahwa pada 2013 persentase penduduk Jawa Tengah yang memiliki sanitasi berupa jamban hanya 54 persen.

taboola mid article

“Tahun 2013 itu akses jamban itu hanya 54 persen tetapi terus meningkat sehingga sampai saat ini 95,6 persen,” ucap Yulianto, Kamis (14/10).

Namun demikian, peningkatan jumlah jamban di Jawa Tengah sebenarnya baru terjadi pada 2017. Sebab dalam kurun 2013-2016 desa ODF berada di angka 200-500 desa.

Pada 2017, desa ODF meningkat tajam menjadi 2.728 desa dan secara menerus meningkat hingga 2021 desa ODF sebanyak 7.039 desa.

Yulianto menjelaskan alasan kurun 2013-2016 tidak mengalami penambahan signifikan atas jumlah jamban karena belum adanya advokasi dari Bupati / Wali Kota.

“Desa ODF 2013-2016 ya kita berjalan begitu saja belum ada vokasi pada kepala daerah kabupaten kota namun demikian mulai 2017 sudah mulai meningkat,” jelasnya.

Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/dinkes-akses-jamban-warga-jateng-capai-956-34-masih-bab-sembarangan.html